Kamis, 07 November 2019

Pemeriksaan Skor Kalsium Deteksi Dini Risiko Jantung Koroner

CT scan kalsium merupakan tes diagnostik yang dilakukan untuk mengukur tingkat risiko seseorang terkena penyakit jantung koroner (coronary artery disease). Kalsium merupakan salah satu mineral yang berfungsi utama dalam tubuh. Kalsium tidak diproduksi oleh tubuh kita tetapi didapatkan dari makanan dan produk yang mengandung kalsium, seperti susu. Kalsium yang masuk ke dalam tubuh selain digunakan oleh tubuh, dalam jumlah kecil ada yang tertinggal dalam pembuluh darah dan dapat menimbulkan timbunan plak menyebabkan plak mengeras di dinding pembuluh darah terutama di pembuluh darah koroner jantung.

Plak dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah koroner jantung sehingga aliran darah ke otot jantung (miokard) terhambat. Akibatnya, otot jantung tidak mendapat nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan, bahkan pada keadaan tertentu terjadi sumbatan total pembuluh darah koroner yang dikenal dengan serangan jantung.

Untuk deteksi dini risiko penyakit jantung koroner ini, di RS Al Islam dilakukan pemeriksaan CT scan skor kalsium dengan menggunakan pesawat MDCT160 slice. CT scan kalsium ini tujuannya memeriksa dan menilai keberadaan kalsium serta timbunan kalsium di dinding pembuluh darah koroner jantung kemudian dihitung volumenya dan dibuat skor kalsium secara komputerisasi.

Skor kalsium (coronary artery calcium score) adalah perhitungan jumlah penumpukan kalsium pada pembuluh darah koroner jantung yang dapat memprediksi risiko terjadinya penyakit jantung seperti penyakit jantung koroner (PJK) dan gagal jantung sehingga penggunaan skor ini bermanfaat agar tata laksana pencegahan dapat segera dilakukan.

Secara umum, pemeriksaan ini tidak memerlukan persiapan khusus. Pemeriksaannya aman, nyaman, dan cepat. Pasien hanya berbaring telentang di dalam pesawat MDCT Scan sekitar 10 menit.

Selama pemeriksaan, sebaiknya pasien tidak menggunakan barang-barang yang mengandung logam untuk menghindari gangguan pencitraan (artefak). Risiko pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan sinar X lainnya (rontgen), yaitu radiasi sinar X, tetapi kadarnya sangat sedikit.

Penilaian skor kalsium dihitung menurut formula Agaston yang dikorelasikan dengan usia, jenis kelamin, dan etnis, dinilai skor kalsium dari tiap-tiap pembuluh darah koroner per cabang. Dihitung total skor kalsium dan dibuat skor: o (tidak ada plak kalsium), 1-10 (plak kalsium minimal), 11-100 (plak kalsium ringan), 101-400 (plak kalsium sedang), 401 atau lebih tinggi (plak kalsium berat). Penilaian lain digunakan penilaian dengan persentil dikorelasikan dengan usia, jenis kelamin, dan etnis. 

Skor kalsium ini tidak menilai fungsi pembuluh jantung koroner, tetapi mengukur jumlah kalsium di dalam arteri koroner. Bisa saja orang dengan skor kalsium yang tinggi tetapi tidak terdapat iskemia (kurangnya aliran darah ke otot jantung) pada tes stres.

Hal itu bisa terjadi akibat adanya remodelling Glagovian, yaitu proses remodeling pada dinding pembuluh darah akibat tumpukan plak, tetapi lumen pembuluh darah tidak menyempit. Walaupun demikian, pada pasien dengan skor kalsium tinggi, sebaiknya dilakukan tata laksana pencegahan untuk penyakit jantung koroner karena mereka berada dalam risiko tinggi.

Pada pasien dengan nyeri dada, jika skor kalsium perlu evaluasi penyebab nyeri dada dari luar jantung, jika skor kalsium 1-100 perlu dilakukan MSCT angiografi koroner, skor kalsium 101-400 perlu dilakukan CT angiografi koroner atau pencitraan fungsional untuk iskemia, seperti ekokardiografi stres, dan jika skor kalsium > 400 perlu dilakukan pemeriksaan fungsional untuk iskemia atau angiografi koroner infasif.

Pemeriksaan skor kalsium ini bermanfaat untuk prediksi kasus penyempitan pembuluh darah koroner, menilai kategori risiko penyakit jantung koroner dan juga alat prediksi gagal jantung. Risiko serangan jantung bertambah dengan meningkatnya skor kalsium. Dibandingkan dengan skor kalsium o, skor kalsium yang lebih besar akan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung atau kematian. Peningkatan skor kalsium dapat memprediksi kejadian gagal jantung.
Hal ini karena terdapat hubungan antara penyakit jantung koroner dan gagal jantung. Pada penyakit jantung koroner akan terjadi kerusakan otot jantung yang dapat berujung pada gagal jantung. Bahkan pada beberapa kasus, gejala gagal jantung dapat menjadi keluhan pertama pada penyakit jantung koroner. Sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit jantung koroner adalah pola makan yang baik. Allah swt memberi peringatan di dalam Alquran, "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya" (Q.S. 'Abasa (80): 24).

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net

0 comments:

Posting Komentar