Sabtu, 15 Februari 2020

Shinrin-Yoku, Terapi untuk Jiwa yang Lebih Baik

Sebuah praktik kuno masyarakat Jepang kembali populer di negeri matahari terbit itu. Shinrin-yoku namanya yang diartikan sebagai forest bathing atau bermandikan hutan alami secara eksplisit.

Bermandikan hutan alami ini dipercaya menjadi terapi yang dapat mengurangi stres dan berdampak pada peningkatan hidup yang sejahtera. Dilaporkan dari laman BBC, salah satu tempat untuk melakukan terapi hutan (forest therapy) seperti ini ada di Hutan Akasawa, Perfektur Nagano.

Pemandu terapi akan mulai menyenandungkan seruan pada gunung. Selanjutnya, peserta terapi menelusuri hijau dan asrinya hutan. Beberapa peserta terapi menyatakan testimoninya saat mengikuti sesi terapi untuk jiwa dan batin ini.

"Saya merasa tenang. Ini sesuatu yang baik. Saya merasa dilindungi oleh bumi,” kata seorang peserta.
"Tubuh saya terasa lebih ringan. Di tempat lain, jalan sejauh ini membuat kaki saya cepat lelah dan sakit. Tapi di sini, kaki saya baik-baik saja," ucap peserta lain.
"Saya merasa damai. Saya mendapat perasaan yang kuat bahwa saya manusia. Bersama hutan kami sama-sama hidup," ujar yang lain.

Sejak dahulu, orang-orang Jepang selalu mencintai hutan. Mereka memiliki hubungan istimewa dengan hutan melalui ritual agama, sejarah, juga budaya.

Lewat tradisi shinrin-yoku, manusia menggunakan kelima inderanya untuk menjadi damai. Tak heran, tradisi ini berdampak ke arah yang positif.

Istilah shinrin-yoku adalah frasa rumah tangga di Jepang. Yang secara harfiah diartikan sebagai "bermandikan hutan" dan juga sudah menjadi tradisi umum masyarakat di sana. 

Mereka yang melakukan terapi ini, membaur lebih dalam dengan hutan dan kehidupan alaminya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Kita bahkan disarankan untuk berbicara dengan pepohonan.

Urbanisasi
Metode penyembuhan jiwa melalui hutan di Jepang ini menjadi penting akibat dampak urbanisasi besar-besaran. Dr Qing Li, ahli penyembuhan dengan terapi hutan menjelaskan, di Jepang, populasi manusia terpusat di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, dan Nagoya. Bahkan kemungkinannya 80 persen populasi manusia Jepang tinggal di kota besar.

Pada sekitar 1980-an, faktor-faktor pemicu stres bermunculan di tengah-tengah masyarakat Jepang. Padahal, stres dapat mengarah dan memicu segala jenis penyakit. Diperkirakan, terapi forest bathing dapat menurunkan tingkat stres.

Kini, ada pangkalan terapi hutan khusus di negeri sakura itu. Diawali dengan ahli terapi melakukan penilaian kepada pengunjung. Selanjutnya, mereka menyiapkan makanan dengan bahan-bahan makanan yang dikumpulkan dari hutan.

Hingga saat ini, forest bathing menjadi praktik untuk pengobatan preventif. Akan tetapi, di masa mendatang, forest bathing digunakan sebagai bagian dari treatment untuk sebagian penyakit.

Saat ini sudah banyak orang yang menyadari pentingnya hutan dan sumber-sumber alami kehidupan lainnya. Mereka ingin memelihara hutan dan lingkungan untuk kesehatan hidupnya. Ini yang membuat forest bathing menjadi semakin populer di Jepang. [Eva Fahas/PRM/09022020]

0 comments:

Posting Komentar