Minggu, 08 September 2019

Menangani Stroke Perdarahan dengan Bedah Invasif Minimal


Stroke adalah kondisi medis gawat darurat yang terjadi ketika aliran darah ke otak terputus. Tanpa asupan darah, sel-sel otak akan mati. Ini dapat menyebabkan rentetan komplikasi fatal, dari kelumpuhan permanen hingga kematian.

Kita mengenal dua jenis stroke yang paling umum, yaitu stroke perdarahan atau stroke hemoragik serta stroke iskemik. Stroke iskemik adalah jenis stroke yang terjadi ketika pembuluh darah yang menyuplai darah ke area otak terhalang oleh bekuan darah. Mengutip dari laman HelloSehat.com, stroke iskemik bertanggung jawab atas 87% dari total kasus stroke. Stroke perdarahan terjadi saat pembuluh darah di otak mengalami kebocoran atau pecah. Stroke jenis ini menyumbang sekitar 13% dari total kasus stroke.

Semakin ke sini, kejadian stroke perdarahan semakin banyak. Tak hanya menyerang orang berusia lanjut, banyak juga yang berusia muda, mulai dari usia 20-an atau 30-an tahun. Stroke perdarahan berawal dari pembuluh darah yang melemah, kemudian pecah dan menumpahkan darah ke sekitarnya. Darah yang bocor jadi menumpuk dan menghambat jaringan otak di sekitarnya. Akibatnya bisa menimbulkan koma panjang dan kematian jika perdarahan terus berlanjut.

Ada beberapa faktor yang dapat menjadi pemicu stroke perdarahan, antara lain tekanan darah tinggi, kelainan struktur pembuluh darah sejak lahir, aneurisma otak, tumor otak, kelainan darah, serta bisa juga dipicu oleh faktor risiko lain seperti merokok, stres tinggi, pola hidup yang tidak sehat, serta diabetes melitus. Bahkan, seseorang bisa saja mengalami stroke perdarahan tanpa ada faktor pemantiknya.

Secara garis besar, ada dua jenis stroke perdarahan yang banyak dialami. Perdarahan saat pecahnya pembuluh darah dalam otak disebut dengan perdarahan intraserebral. Perdarahan pada pembuluh darah pada ruang di antara lapisan pembungkus otak bagian tengah dan dalam disebut dengan perdarahan subarachnoid.

Gejalanya bisa berbeda. Hal itu tergantung seberapa besar jaringan yang terganggu, lokasi, serta tingkat keparahan perdarahan yang terjadi. Mayoritas gejalanya adalah penglihatan mulai kabur tanpa sebab atau tanpa didahului benturan. Gangguan penglihatan itu bisa menetap atau sementara.

Gejala lain adalah mulut atau wajah yang tiba-tiba tidak simetris, bicara yang tiba-tiba cadel, terjadi kelemahan anggota gerak (bisa lunglai di salah satu sisi tubuh atau lumpuh), serta tekanan tinggi di dalam otak yang menyebabkan penurunan kesadaran, mual dan muntah yang menyemprot, serta nyeri kepala hebat.

Baik stroke perdarahan maupun stroke iskemik sebenarnya memiliki gejala yang tak jauh berbeda. Yang membedakan diagnosis selanjutnya adalah melalui pemeriksaan penunjang. Jika memiliki gejala tersebut, baik timbul maupun tenggelam, pasien disarankan untuk langsung mendatangi fasilitas kesehatan untuk menghindari komplikasi yang mungkin terjadi. 

Sayangnya, pasien datang ke rumah sakit ketika sudah terkena stroke. Jika sudah demikian, sebaiknya langsung datangi rumah sakit yang memiliki emergency dan fasilitas lengkap sehingga bisa langsung dilakukan pemeriksaan penunjang seperti CT scan, MRI, dan pemeriksaan lain. Golden period atau waktu terbaik penanganan pascastroke yaitu maksimal antara enam hingga delapan jam.

Minim risiko
Seseorang yang mengalami stroke sangat penting untuk segera mendapatkan penanganan medis. Pengobatan yang dilakukan sesegera mungkin dapat menyelamatkan hidup. Pengobatan yang dilakukan pada pasien stroke perdarahan pada umumnya meliputi obat pengontrol pembengkakan otak, obat untuk menghilangkan sakit kepala, dan obat kejang.

Pada beberapa kasus yang parah, prosedur bedah diperlukan untuk menghentikan pendarahan, mengurangi tekanan di dalam tengkorak, dan mempercepat pemulihan. Penanganan juga dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Perkembangan teknologi di bidang medis memungkinkan operasi stroke dilakukan dengan risiko sekecil mungkin. Salah satu prosedur minim risiko yang dapat dilakukan adalah minimal invasive surgery atau bedah invasif minimal.

Proses invasif minimal dimulai dengan pembuatan sayatan kecil pada tnbuh. Melalui sayatan ini, dokter bedah memasukkan alat dan kamera kecil beresolusi tinggi untuk membantu mencari bagian pembuluh darah tersumbat atau pecah yang menjadi penyebab stroke.

Kamera terhubung dengan monitor. Melalui monitor, dokter dapat melihat dengan jelas kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah otak secara realtime. Penanganan terhadap pembuluh darah yang bermasalah dapat langsung dilakukan. Tahap terakhir adalah menutup kembali sayatan kecil tempat masuknya alat dan kamera ke dalam tubuh.

Pada masa lalu, operasi besar dilakukan untuk mengambil gumpalan darah seusai terjadinya stroke perdarahan. Kini, metode invasif minimal lebih banyak dilakukan karena berbagai alasan. Alasan tersebut, misalnya, sayatan luka yang kecil dengan diameter 2-3 cm, serta penampakan luka yang lebih jelas. Risiko pendarahan atau kerusakan yang lebih hebat lagi bisa diminimalkan.

Dengan invasif minimal, diameter bukaan tulang juga berukuran minimal, sekitar 1-1,5 cm. Lokasi sayatannya tergantung pada lokasi perdarahan yang terjadi. Dengan invasif minimal, diharapkan tidak akan merusak jaringan otak yang sehat.

Penanganan pada pasien stroke sangat kompleks. Itu karena membutuhkan kerja sama dengan disiplin ilmu lain, seperti dokter umum, dokter saraf, dokter penyakit dalam, fisioterapi, dll, tergantung pada kondisi pasien.

Harapannya, pasien bisa sembuh dan kembali memiliki kualitas hidup yang baik. Tapi, tubuh orang kan berbeda, ada yang langsung pulih, ada pula yang membutuhkan waktu bulanan, bahkan tahunan.

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net

0 comments:

Posting Komentar