Halaman

    Social Items

Secara definisi, kraniotomi adalah prosedur dalam ilmu bedah saraf agar dapat mengakses isi otak. Orang zaman dulu sudah mengenal prosedur semacam ini yang dikenal dengan sebutan trepanasi yang secara harfiah berarti membuka batok kepala manusia untuk mencegahnya dari kematian. Tentu saja pada praktiknya jauh berbeda dengan ilmu kraniotomi masa kini.

Kraniotomi bisa digunakan sebagai penanganan kasus tumor, perdarahan di otak (strok) atau untuk merehabilitasi cacat bawaan yang bagian kepalanya harus direkonstruksi. Ada dua jenis kraniotomi, yakni kraniotomi standar dan minikraniotomi. Saat ini, perkembangan ilmu kraniotomi semakin pesat sebingga prosedur minikraniotomi dianggap lebih baik.

Kraniotomi harus spesifik menangani permasalahan anomali dari otak. Tidak boleh menyebabkan kerusakan bagian otak yang normal. Membuka tempurung kepala itu tidak sulit. Bahkan, setiap dokter istilahnya bisa melakukannya. Akan tetapi, membuat pertimbangan serta keterampilan untuk menghindari kerusakan otak yang lebih luas dibutuhkan studi spesifik yang menjadi keahlian dokter spesialis bedah saraf.

Misalnya dalam memutuskan saat operasi otak, apalagi jika lokasinya berada ditengah-tengah, usahakan lebih cenderung mengarah ke bagian otak kanan daripada otak kiri. Itu karena secara fungsi otak bagian kanan bertugas mengerjakan hal-hal kesenian, sedangkan otak kiri berfungsi untuk aktivitas motorik.

Organ yang paling penting dari otak adalah batang otak, struktur pembuluh darah, dan struktur saraf kranial. Semakin mendekati batang otak, area tersebut menjadi makin penting. Juga bila pada saat operasi menyentuh pembuluh darah, denyut nadi otomatis turun.

Tindakan kraniotomi di masa kini semakin dimudahkan oleh instrumen diagnosis seperti CTscan atau MRI. Keduanya membantu dokter bedah saraf untuk menentukan lokasi tepatnya permasalahan di dalam otak.

CT scan digunakan untuk mengetahui adanya pendarahan yang kemudian bisa ditangani dengan operasi endovaskuler untuk menjepit (clipping) pembuluh darah yang pecah. Sementara itu, MRI bisa digunakan untuk mencari sumber perdarahan yang terjadi pada otak.

Oleh karena itu, pada kraniotomi ada empat faktor yang menjadi standar ideal tindakan. Yaitu keterampilan dokter bedah, besar kecilnya lassie (area masalah pada otak), jenis lokasi operasi terdapat di daerah yang "penting" atau tidak, serta pertimbangan praoperasi yang mana pada masing-masing pasien anatominya pasti berbeda.

Sebelum operasi kraniotomi, lumrah dilakukan mapping atau pemetaan berdasarkan hasil MRI yang disebut tractography atau trekking saraf pada saat operasi.

Pada kraniotomi juga dikenal dengan prosedur awake craniotomy. Itu adalah prosedur yang dilakukan dengan pasien yang sepenuhnya bangun atau sadar. Biasanya, ini dilakukan pada pasien dengan tumor di otak bagian kiri. Di sana terdapat saraf bicara sehingga untuk memastikan sarafnya tidak kena, pasien harus diajak ngobrol saat tempurungnya dibuka, pasien tentu saja dibius. Namun, ketika dilakukan, operasi pengambilan tumor pada otak, pasien dibangunkan. Jika saat ngobrol pasien melantur, bisa jadi karena ada saraf bicaranya yang kena.

Awake craniotomy juga menyangkut kraniotomi motorik. Pada saat operasi, pasien dibangunkan dan diminta untuk menggerakkan tangan. Tujuannya tentu saja untuk melihat apakah saraf motoriknya berfungsi baik atau tidak.

Setelah operasi, tulang tengkorak harus direkatkan kembali. Biasanya, dokter menggunakan miniplate dan miniscrew berukuran 4-5 mm dari bahan titanium. Bekas potongan tulang setelah operasi tidak akan terfiksasi. Akan tetapi, dapat dibantu dan dipercepat perlekatannya dengan semen tulang.

Selepas kraniotomi akan tumbuh rambut baru di atas tempurung yang dibuka. Itu karena sebelum operasi, pasien biasanya harus dicukur rambut agar tidak menambah faktor infeksi.

Pascakraniotomi, pasien bisa mengonsumsi obat-obatan neurotropik, antibiotik, juga tambahan kalsium. Biasanya, dokter menyarankan untuk baru membuka jahitan di kepala dalam 7-10 hari setelah operasi. [Eva Fahas/PRM/22092019]

Source Image : AloDokter.com

Kraniotomi, Prosedur Bedah Saraf untuk Mengakses Isi Otak

Mari Sehat
Secara definisi, kraniotomi adalah prosedur dalam ilmu bedah saraf agar dapat mengakses isi otak. Orang zaman dulu sudah mengenal prosedur semacam ini yang dikenal dengan sebutan trepanasi yang secara harfiah berarti membuka batok kepala manusia untuk mencegahnya dari kematian. Tentu saja pada praktiknya jauh berbeda dengan ilmu kraniotomi masa kini.

Kraniotomi bisa digunakan sebagai penanganan kasus tumor, perdarahan di otak (strok) atau untuk merehabilitasi cacat bawaan yang bagian kepalanya harus direkonstruksi. Ada dua jenis kraniotomi, yakni kraniotomi standar dan minikraniotomi. Saat ini, perkembangan ilmu kraniotomi semakin pesat sebingga prosedur minikraniotomi dianggap lebih baik.

Kraniotomi harus spesifik menangani permasalahan anomali dari otak. Tidak boleh menyebabkan kerusakan bagian otak yang normal. Membuka tempurung kepala itu tidak sulit. Bahkan, setiap dokter istilahnya bisa melakukannya. Akan tetapi, membuat pertimbangan serta keterampilan untuk menghindari kerusakan otak yang lebih luas dibutuhkan studi spesifik yang menjadi keahlian dokter spesialis bedah saraf.

Misalnya dalam memutuskan saat operasi otak, apalagi jika lokasinya berada ditengah-tengah, usahakan lebih cenderung mengarah ke bagian otak kanan daripada otak kiri. Itu karena secara fungsi otak bagian kanan bertugas mengerjakan hal-hal kesenian, sedangkan otak kiri berfungsi untuk aktivitas motorik.

Organ yang paling penting dari otak adalah batang otak, struktur pembuluh darah, dan struktur saraf kranial. Semakin mendekati batang otak, area tersebut menjadi makin penting. Juga bila pada saat operasi menyentuh pembuluh darah, denyut nadi otomatis turun.

Tindakan kraniotomi di masa kini semakin dimudahkan oleh instrumen diagnosis seperti CTscan atau MRI. Keduanya membantu dokter bedah saraf untuk menentukan lokasi tepatnya permasalahan di dalam otak.

CT scan digunakan untuk mengetahui adanya pendarahan yang kemudian bisa ditangani dengan operasi endovaskuler untuk menjepit (clipping) pembuluh darah yang pecah. Sementara itu, MRI bisa digunakan untuk mencari sumber perdarahan yang terjadi pada otak.

Oleh karena itu, pada kraniotomi ada empat faktor yang menjadi standar ideal tindakan. Yaitu keterampilan dokter bedah, besar kecilnya lassie (area masalah pada otak), jenis lokasi operasi terdapat di daerah yang "penting" atau tidak, serta pertimbangan praoperasi yang mana pada masing-masing pasien anatominya pasti berbeda.

Sebelum operasi kraniotomi, lumrah dilakukan mapping atau pemetaan berdasarkan hasil MRI yang disebut tractography atau trekking saraf pada saat operasi.

Pada kraniotomi juga dikenal dengan prosedur awake craniotomy. Itu adalah prosedur yang dilakukan dengan pasien yang sepenuhnya bangun atau sadar. Biasanya, ini dilakukan pada pasien dengan tumor di otak bagian kiri. Di sana terdapat saraf bicara sehingga untuk memastikan sarafnya tidak kena, pasien harus diajak ngobrol saat tempurungnya dibuka, pasien tentu saja dibius. Namun, ketika dilakukan, operasi pengambilan tumor pada otak, pasien dibangunkan. Jika saat ngobrol pasien melantur, bisa jadi karena ada saraf bicaranya yang kena.

Awake craniotomy juga menyangkut kraniotomi motorik. Pada saat operasi, pasien dibangunkan dan diminta untuk menggerakkan tangan. Tujuannya tentu saja untuk melihat apakah saraf motoriknya berfungsi baik atau tidak.

Setelah operasi, tulang tengkorak harus direkatkan kembali. Biasanya, dokter menggunakan miniplate dan miniscrew berukuran 4-5 mm dari bahan titanium. Bekas potongan tulang setelah operasi tidak akan terfiksasi. Akan tetapi, dapat dibantu dan dipercepat perlekatannya dengan semen tulang.

Selepas kraniotomi akan tumbuh rambut baru di atas tempurung yang dibuka. Itu karena sebelum operasi, pasien biasanya harus dicukur rambut agar tidak menambah faktor infeksi.

Pascakraniotomi, pasien bisa mengonsumsi obat-obatan neurotropik, antibiotik, juga tambahan kalsium. Biasanya, dokter menyarankan untuk baru membuka jahitan di kepala dalam 7-10 hari setelah operasi. [Eva Fahas/PRM/22092019]

Source Image : AloDokter.com
Share this article :

Tidak ada komentar