Halaman

    Social Items

Ilmu kesehatan gigi dan mulut mengulas secara lengkap mulai dari keluhan-keluhan umum penderita gigi dan mulut, cara perawatan atau pengobatan, penyakit-penyakit sistemik lain yang dapat bermanifestasi ke rongga mulut, spesialisasi yang ada di lingkungan kedokteran gigi, serta jenis-jenis pekerjaan dan anjuran lain.

Kali ini, penulis ingin menjelaskan tentang kelainan atau penyakit-penyakit seputar gigi dan gusi yang sehari-hari dikeluhkan penderita, tetapi tidak mengetahui penyebabnya, atau mengetahui penyebabnya tetapi penderita tidak mau atau takut untuk ditindak oleh dokter gigi.

Keluhan umum yang sering disampaikan penderita adalah gusi mudah berdarah, gigi goyah, sampai bau mulut atau halitosis yang mengganggu pernapasan.

Gigi geligi tertanam kuat pada tulang rahang tepatnya pada tulang alveolus, baik rahang bawah maupun rahang atas. Pada perbatasan leher gigi dan gusi terdapat saku gusi. Yang namanya "saku" tentu memudahkan penumpukan sisa makanan, lambat laun mengeras serta melekat erat di permukaan gigi berupa karang gigi. Karang gigi sulit dibersihkan dengan sikat gigi dan lambat laun menimbulkan berbagai macam keluhan. 

Ciri-ciri gusi normal yaitu berwarna merah muda, saat dipegang terasa agak kenyal, permukaan halus, dan tidak mudah berdarah bila terkena rangsang sentuhan atau tekanan. Pada iondist tertentu, warna gusi tidak tampak normal seperti berwarna agak hitam, dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu faktor internal atau dari dalam tubuh (genetik/keturunan/ras tertentu). Lalu, faktor eksternal atau luar tubuh (berasal dari benda asing), seperti merokok, tambalan gigi amalgam yang kurang baik atau pada kerja pabrik yang berhubungan dengan timbal (timah hitam) memiliki peranan terhadap perubahan warna gusi.

Berikut berbagai kondisi gusi tidak normal.
  1. Peradangan gusi, sering disebut gingivitis, adalah kondisi gusi mudah berdarah bila tersentuh rangsang ringan atau sensitif. Gingivitis merupakan iritasi "karang gigi" yang menempel erat pada leher gigi, selain menimbulkan perdarahan dapat pula terjadi pembengkakan atau nyeri sekitar gusi.
  2. Periodontitis atau radang jaringan periodontal yang merupakan kelanjutan dari gingivitis yang dibiarkan lama dapat mengakibatkan infeksi gusi, kerusakan tulang rahang dan gigi yang dapat mengenai semua usia. 
  3. Pada penderita anemia, warna gusi pucat karena kekurangan suplai sel darah merah sehat yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Saat salah satu organ tubuh tidak atau kurang mendapat sel darah beroksigen, tentu warnanya memucat termasuk gusi.
  4. Penyakit leukoplakia merupakan bercak putih di dalam rongga mulut termasuk gusi, menjadikan gusi lebih tampak pucat. Bercak putih ini dapat bercampur dengan bercak merah yang sulit hilang jika dibersihkan. Beberapa penyebab di antaranya merokok, konsumsi minuman beralkohol, atau individu yang tidak menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik. Leukoplakia dapat menjadi tanda awal gejala kanker bila kemunculannya sekaligus berwarna merah dan putih. Oleh karena itu, jangan sepelekan bila melihat kondisi-kondisi di dalam rongga mulut seperti itu.
  5. Menopause gingivostomatitis adalah kondisi gusi memucat kering sehingga mudah berdarah yang dapat terjadi pada wanita menopause.
  6. Defisiensi/kekurangan vitamin K. Fungsi vitamin K adalah membantu proses pembekuan darah. Jika individu mengalami perdarahan hebat dan tidak terkendali dapat mengakibatkan gusi pucat seperti halnya anemia.
  7. Gingivitis gravidarum/periodontitis gravidunim/gingivitta hyperplasia gravidarum adalah kelainan gusi pada ibu hamil. Hal itu terjadi karena ketidakseimbangan hormon, antara hormon estrogen dan progesteron sehingga aliran darah ke jaringan gusi meningkat, membuat lebih rentan terinfeksi bakteri yang menempel pada karang gigi, memicu gusi bengkak/mudah berdarah dengan warna merah terang selama kehamilan, gigi semakin sensitif, sakit mengunyah, hingga gigi goyah dan napas kurang segar.
  8. Penyakit diabetes dapat menimbulkan gangguan pada gigi, gusi, dan lidah. Bila diabetes tidak terkontrol, tidak hanya glukosa dalam darah yang meningkat, tetapi glukosa dalam air liur pun meningkat. Air liur dengan kadar glukosa tinggi menyebabkan bakteri dalam mulut mudah tumbuh, penumpukan plak pada gigi semakin banyak sehingga gusi mudah terserang infeksi/meradang.   
  9. Penyakit HIV dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh seseorang. Rongga mulut adalah salah satu yang sering terkena dampaknya. Biasanya muncul gusi mudah berdarah karena sistem kekebalan tubuh melemah.
  10. Bone loss periodontal disease. Pada kasus ini terjadi resorbsi/penyusutan tulang alveolus, tempat akar gigi menancap karena kelanjutan penyakit periodontitis.


Hal utama yang perlu diperhatikan supaya terhindar penyakit periodontal/kelainan-kelainan lain di sekitar gusi adalah senantiasa menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan rajin menggosok gjgi secara rutin setelah makan pagi dan menjelang tidur malam, memakai jenis bulu sikat gigi yang lembut, tidak melakukan tekanan berlebih saat menggosok gigi dengan melakukan arah gerakan menggosok gigi yang benar, gantilah sikat gigi yang bulu sikatnya sudah mengembang, secara rutin kontrol ke dokter gigi setiap enam bulan sekali supaya dokter gigi dapat melakukan tindakan sesegera mungkin bila menemukan kelainan.
Berikut disebutkan beberapa jenis tindakan yang biasa dilakukan dokter gigi spesialis periodontis:
  1. Root planning, membersihkan karang gigi/plak yang sudah mengenai akar gigi, mengerjakan scaling sekaligus root planing dengan menggunakan alat khusus guna membersihkan karang gigi di sepanjang permukaan akar gigi. Tindakan ini dilakukan di bawah anestesi lokal/bius lokal Dengan perkembangan teknologi, tindakan scaling/root planning dapat dilakukan pula dengan laser.
  2. Tindakan bedah gusi, yaitu dengan melakukan operasi gusi/cangkok gusi dan melakukan cangkok tulang/bone graft dengan memakai bahan khusus untuk merangsang pertumbuhan tulang dan jaringan gusi yang telah hancur karena perjalanan lanjutan penyakit periodontitis yang tidak segera diatasi.
  3. Pemasangan kawat gigi/'wiring pada kasus gigi geligi yang mengalami kegoyangan tertentu untuk menjaga susunan gigi terjaga dengan baik setelah dilakukan scaling/root planning.


Waspadai Penyakit Gusi dan Cara Perawatannya

Mari Sehat
Ilmu kesehatan gigi dan mulut mengulas secara lengkap mulai dari keluhan-keluhan umum penderita gigi dan mulut, cara perawatan atau pengobatan, penyakit-penyakit sistemik lain yang dapat bermanifestasi ke rongga mulut, spesialisasi yang ada di lingkungan kedokteran gigi, serta jenis-jenis pekerjaan dan anjuran lain.

Kali ini, penulis ingin menjelaskan tentang kelainan atau penyakit-penyakit seputar gigi dan gusi yang sehari-hari dikeluhkan penderita, tetapi tidak mengetahui penyebabnya, atau mengetahui penyebabnya tetapi penderita tidak mau atau takut untuk ditindak oleh dokter gigi.

Keluhan umum yang sering disampaikan penderita adalah gusi mudah berdarah, gigi goyah, sampai bau mulut atau halitosis yang mengganggu pernapasan.

Gigi geligi tertanam kuat pada tulang rahang tepatnya pada tulang alveolus, baik rahang bawah maupun rahang atas. Pada perbatasan leher gigi dan gusi terdapat saku gusi. Yang namanya "saku" tentu memudahkan penumpukan sisa makanan, lambat laun mengeras serta melekat erat di permukaan gigi berupa karang gigi. Karang gigi sulit dibersihkan dengan sikat gigi dan lambat laun menimbulkan berbagai macam keluhan. 

Ciri-ciri gusi normal yaitu berwarna merah muda, saat dipegang terasa agak kenyal, permukaan halus, dan tidak mudah berdarah bila terkena rangsang sentuhan atau tekanan. Pada iondist tertentu, warna gusi tidak tampak normal seperti berwarna agak hitam, dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu faktor internal atau dari dalam tubuh (genetik/keturunan/ras tertentu). Lalu, faktor eksternal atau luar tubuh (berasal dari benda asing), seperti merokok, tambalan gigi amalgam yang kurang baik atau pada kerja pabrik yang berhubungan dengan timbal (timah hitam) memiliki peranan terhadap perubahan warna gusi.

Berikut berbagai kondisi gusi tidak normal.
  1. Peradangan gusi, sering disebut gingivitis, adalah kondisi gusi mudah berdarah bila tersentuh rangsang ringan atau sensitif. Gingivitis merupakan iritasi "karang gigi" yang menempel erat pada leher gigi, selain menimbulkan perdarahan dapat pula terjadi pembengkakan atau nyeri sekitar gusi.
  2. Periodontitis atau radang jaringan periodontal yang merupakan kelanjutan dari gingivitis yang dibiarkan lama dapat mengakibatkan infeksi gusi, kerusakan tulang rahang dan gigi yang dapat mengenai semua usia. 
  3. Pada penderita anemia, warna gusi pucat karena kekurangan suplai sel darah merah sehat yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Saat salah satu organ tubuh tidak atau kurang mendapat sel darah beroksigen, tentu warnanya memucat termasuk gusi.
  4. Penyakit leukoplakia merupakan bercak putih di dalam rongga mulut termasuk gusi, menjadikan gusi lebih tampak pucat. Bercak putih ini dapat bercampur dengan bercak merah yang sulit hilang jika dibersihkan. Beberapa penyebab di antaranya merokok, konsumsi minuman beralkohol, atau individu yang tidak menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik. Leukoplakia dapat menjadi tanda awal gejala kanker bila kemunculannya sekaligus berwarna merah dan putih. Oleh karena itu, jangan sepelekan bila melihat kondisi-kondisi di dalam rongga mulut seperti itu.
  5. Menopause gingivostomatitis adalah kondisi gusi memucat kering sehingga mudah berdarah yang dapat terjadi pada wanita menopause.
  6. Defisiensi/kekurangan vitamin K. Fungsi vitamin K adalah membantu proses pembekuan darah. Jika individu mengalami perdarahan hebat dan tidak terkendali dapat mengakibatkan gusi pucat seperti halnya anemia.
  7. Gingivitis gravidarum/periodontitis gravidunim/gingivitta hyperplasia gravidarum adalah kelainan gusi pada ibu hamil. Hal itu terjadi karena ketidakseimbangan hormon, antara hormon estrogen dan progesteron sehingga aliran darah ke jaringan gusi meningkat, membuat lebih rentan terinfeksi bakteri yang menempel pada karang gigi, memicu gusi bengkak/mudah berdarah dengan warna merah terang selama kehamilan, gigi semakin sensitif, sakit mengunyah, hingga gigi goyah dan napas kurang segar.
  8. Penyakit diabetes dapat menimbulkan gangguan pada gigi, gusi, dan lidah. Bila diabetes tidak terkontrol, tidak hanya glukosa dalam darah yang meningkat, tetapi glukosa dalam air liur pun meningkat. Air liur dengan kadar glukosa tinggi menyebabkan bakteri dalam mulut mudah tumbuh, penumpukan plak pada gigi semakin banyak sehingga gusi mudah terserang infeksi/meradang.   
  9. Penyakit HIV dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh seseorang. Rongga mulut adalah salah satu yang sering terkena dampaknya. Biasanya muncul gusi mudah berdarah karena sistem kekebalan tubuh melemah.
  10. Bone loss periodontal disease. Pada kasus ini terjadi resorbsi/penyusutan tulang alveolus, tempat akar gigi menancap karena kelanjutan penyakit periodontitis.


Hal utama yang perlu diperhatikan supaya terhindar penyakit periodontal/kelainan-kelainan lain di sekitar gusi adalah senantiasa menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan rajin menggosok gjgi secara rutin setelah makan pagi dan menjelang tidur malam, memakai jenis bulu sikat gigi yang lembut, tidak melakukan tekanan berlebih saat menggosok gigi dengan melakukan arah gerakan menggosok gigi yang benar, gantilah sikat gigi yang bulu sikatnya sudah mengembang, secara rutin kontrol ke dokter gigi setiap enam bulan sekali supaya dokter gigi dapat melakukan tindakan sesegera mungkin bila menemukan kelainan.
Berikut disebutkan beberapa jenis tindakan yang biasa dilakukan dokter gigi spesialis periodontis:
  1. Root planning, membersihkan karang gigi/plak yang sudah mengenai akar gigi, mengerjakan scaling sekaligus root planing dengan menggunakan alat khusus guna membersihkan karang gigi di sepanjang permukaan akar gigi. Tindakan ini dilakukan di bawah anestesi lokal/bius lokal Dengan perkembangan teknologi, tindakan scaling/root planning dapat dilakukan pula dengan laser.
  2. Tindakan bedah gusi, yaitu dengan melakukan operasi gusi/cangkok gusi dan melakukan cangkok tulang/bone graft dengan memakai bahan khusus untuk merangsang pertumbuhan tulang dan jaringan gusi yang telah hancur karena perjalanan lanjutan penyakit periodontitis yang tidak segera diatasi.
  3. Pemasangan kawat gigi/'wiring pada kasus gigi geligi yang mengalami kegoyangan tertentu untuk menjaga susunan gigi terjaga dengan baik setelah dilakukan scaling/root planning.


Share this article :

Tidak ada komentar