Senin, 01 Juli 2019

Awasi Tekanan Darah demi Kesehatan Jantung

Tekanan darah merupakan salah satu parameter dasar kesehatan seseorang. Oleh karena itu, setiap orang dewasa yang datang ke fasifitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan akan diukur tekanan darahnya. Seseorang didiagnosis tekanan darah tinggi atau hipertensi bila saat pengukuran di fasilitas kesehatan, tensi darahnya > 140/90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang 5 menit dalam keadaan tenang dan cukup istirahat.

Diagnosis hipertensi juga dapat dilakukan sendiri apabila tersedia tensimeter di rumah, biasanya berupa tensimeter digital. Caranya dengan mengukur tensi darah Sebanyak 2 kali; ( selang 2 menit setiap pagi dan sore, dilakukan 6-7 hari berturut-turut. Hasil pengukuran hari pertama diabaikan kemudian dihitung rata-rata tensi darah hari kedua dan seterusnya (minimal 3 hari). Didiagnosis hipertensi bila rata-rata tensi darah di rumah >135/85 mmHg.

Bagaimana cara mengukur tekanan darah yang benar?
Lima belas menit sebelum pemeriksaan, tidak diperbolehkan merokok, minum alkohol dan mengonsumsi kafein (kopi, minuman bersoda, minuman berenergi). Pengukuran dilakukan dengan posisi duduk bersandar dan rileks, kedua kaki tidak boleh disilangkan, dan lengan diletakkan di atas meja setinggi posisi jantung. Gunakan manset dengan ukuran yang sesuai, batas bawah manset kurang lebih 2,5 cm di atas siku. Lakukan pengukuran sebanyak 2-3 kali selang 1-2 menit dan dihitung rata-ratanya.

Apa penyebab dan bahaya hipertensi?
Penyebab hipertensi dibagi menjadi dua: 1) primer, karena faktor usia dan 2) sekunder, karena kerusakan organ tubuh terutama ginjal. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai penyakit, seperti stroke, penyakit jantung koroner, serangan jantung, gagal jantung, gangguan irama jantung), gagal ginjal, dan kebutaan.

Bagaimana gejala hipertensi?
Pada umumnya, hipertensi tidak menimbulkan gejala sehingga banyak penderita yang tidak menyadari mengidap hipertensi. Sering terjadi, pasien baru mengetahui memiliki hipertensi setelah terjadi komplikasi dan datang ke rumah sakit dalam keadaan stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal, dan memerlukan tindakan cuci darah. Oleh karena itu, hipertensi juga dikenal sebagai silent killer.

Siapa yang berisiko mengalami hipertensi?
Bertambahnya usia dan penyakit ginjal sangat berperan dalam terjadinya hipertensi. Faktor lain umumnya berkaitan dengan gaya hidup seperti stres, merokok, konsumsi alkohol, kurang olah raga, kegemukan, diet tinggi gagula (garam, gula, dan lemak).

Apa yang haras dilakukan jika mengalami hipertensi?
Konsultasi ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan adanya hipertensi. Bila sudah terkonfirmasi, dokter akan merekomendasikan perubahan gaya hidup terlebih dahulu untuk mengontrolnya. Terapi perubahan gaya hidup yang dilakukan antara lain: pengaturan diet (rendah garam; maksimal 1 sendok teh/hari, rendah lemak, memperbanyak konsumsi buah dan sayuran), menurunkan kelebihan berat badan, stop merokok dan minuman keras, olah raga teratur.

Apabila dalam waktu tertentu tensi darah yang diharapkan tidak tercapai, barulah dokter memberikan obat antihipertensi. Kadang obat antihipertensi langsung diberikan bersamaan dengan terapi perubahan gaya hidup bila tensi darah sangat tinggi atau kondisi pasien berisiko tinggi untuk terjadi komplikasi. Pemberian obat anti-hipertensi bertujuan menurunkan risiko komplikasi dan kematian akibat stroke, penyakit jantung, dan ginjal.

Amankah mengonsumsi obat antihipertensi jangka panjang?
Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan sekitar 54% penderita hipertensi minum antihipertensi secara rutin, selebihnya tidak rutin bahkan sama sekali tidak minum obat. Salah satu alasan yang sering dikemukakan adalah takut ginjalnya rusak bila minum obat secara terus-terusan. Benarkah demikian? Tidak dimungkiri bahwa mengonsumsi obat jangka panjang, berisiko terkena efek samping obat, termasuk antihipertensi. Namun, angka kejadian gangguan ginjal akibat efek samping antihipertensi jauh lebih rendah dibandingkan dengan kejadian gangguan ginjal akibat hipertensi. Justru antihipertensi diberikan salah satunya untuk mencegah kerusakan ginjal dan menurunkan angka kematian karenaa gagal ginjal akibat hipertensi. 

Mari kita lakukan pemeriksaan tensi darah secara rutin minimal 1 kali/bulan. Jika berusia di atas 40 tahun lakukan lebih sering agar terhindar dari stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Kenali hipertensi agar kualitas hidup yang baik dapat dinikmati. Semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang budiman. 

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net

0 comments:

Posting Komentar