Halaman

    Social Items

Setiap tahun para diabetesi (penderita diabetes mellitus/sakit kencing manis) khususnya yang termasuk “pendatang baru” banyak yang bertanya-tanya, “Bolehkah saya menjalani ibadah puasa? Apakah cukup aman bagi saya puasa sebulan penuh? Kalau laik untuk berpuasa bagaimana pula pengaturan makan (diet)-nya dan bagaimana pengaturan obatnya? Hal-hal apa yang perlu diperhatikan selama menjalani ibadah puasa tersebut?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali tidak dapat dijawab sendiri dengan memuaskan. Di antara para diabetesi mungkin juga ada yang berpendapat bahwa namanya juga “sakit kencing manis”, artinya kan sakit. Bukankah orang yang sakit boleh tidak berpuasa? Atau mungkin ada pula pernyataan, “Mengapa harus bertanya-tanya. Saya in tidak merasa apa-apa, berarti ya tidak sakit, jadi ya puasa saja.” Untuk membantu para diabetesi yang belum mendapat penjelasan dari dokternya mengenai hal-hal tersebut, di sini akan mencoba memberikan beberapa keterangan atau jawaban atas pertanyaan di atas tadi. Akan tetapi, belum sampai kepada inti persoalannya dan untuk dapat lebih memahami masalahnya, akan disampaikan secara singkat tentang apa itu diabetes dan mengapa perlu dibicarakan secara khusus.

Ketentuan puasa Ramadan

Puasa bulan Ramadan adalah wajib hukumnya bagi umat Islam seperti dinyatakan pada surat Al-Baqarah ayat 183, “Hai orang-ang yang beriman diwajibkan kamu berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan juga atas orang-orang yang sebelummu. Semoga kamu menjadi orang yang raya “. Bagi yang sakit atau tidak ikut menjalankan ibadah ini ada kemudahan yang ditentukan pada ayat-’ 184 surat yang sama, “Puasa itu hanya beberapa hari yang telah ditentukan, tetapi siapa yang sakit diantaramu atau dalam perjalanan, boleh tidak berpuasa, tapi puasakanlah bilangan hari yang tidak dipuasakan itu di hari yang lain “. Dapat dilihat dari ayat-ayat itu bahwa orang yang sakit atau orang-orang yang tidak kuat dapat ikut mengerjakan puasa, tetapi wajibmembayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin.

Dua Golongan Diabetes

Ada beberapa tipe diabetes tetapi yang utama yaitu diabetes tipe-2 = NIDDM (non insulin dependent diabetes mellitus), diabetes yang biasanya mengenai penderita dewasa yang jumlahnya lebih dari 95% dari seluruh penderita diabetes. Tipe diabetes utama yang lain ialah tipe 1 = IDDM (insulin dependent diabetes mellitus) yaitu diabetes yang tergantung mutlak pada pemberian insulin. Yang termasuk golongan ini biasanya mereka yang menderita diabetes sejak anak-anak dan mendapat insulin setiap hari. Pada pengobatannya harus langsung mendapat insulin.

Apakah diabetesi termasuk orang sakit? Dalam keadaan terkendali, baik dan sedang tidak menderita penyakit lain diabetesi termasuk orang yang cukup sehat. Dari penelitian-penelitian terhadap penderita diabetes yang berpuasa sebulan penuh di beberapa kota besar di Indonesia didapatkan bahwa mereka yang diabetesnya terkendalikan dengan baik, tidak mengalami kesukaran atau gangguan selama itu’. Bahkan, pada sebagian penderita, pada akhir puasa mendapatkan penurunan kadar gula dan kadar kolesterol, dan pada beberapa diabetesi yang gemuk berat badannya turun.

Lalu diabetesi yang bagaimana yang laik berpuasa? Seperti disebutkan di atas maka penderita diabetes, selama gula darahnya terkendali cukup baik dan tidak sedang menderita penyakit lain, sebenarnya adalah orang yang sehat, sesehat siapa saja. Mereka inilah yang tidak berisiko atau laik untuk berpuasa. Bagi mereka yang sebelumnya tidak pernah taat menjalankan pengaturan makan sering kali menganggap bahwa bulan puasa ini merupakan kesempatan untuk taat. Tetapi, dalam menerapkan anggapan tersebut mereka harus berhati-hati.

Selain dari keterkendaliannya, kelaikan puasa dapat pula kita lihat dari berat ringannya diabetes. Tingkat beratnya diabetes ditentukan oleh beberapa hal, antara lain oleh adanya komplikasi yang telah terjadi. Namun, secara tidak langsung beratnya diabetes dapat pula dilihat dari cara pengendaliannya, yaitu disebut ringan, apabila diabetes cukup terkendali dengan diet dan olahraga saja. Ringan sampai sedang, apabila diabetesnya terkendali dengan selain diet juga dengan tablet penurun gula atau disebut juga obat hipoglikemik oral (OHO). Disebut berat, apabila untuk terkendalinya diabetes diperlukan insulin. Mereka yang diabetesnya termasuk ringan sampai sedang dan terkendali seperti di atas, dapat dinyatakan aman untuk berpuasa.

Diabetes tipe 2 (diabetes dewasa) yang memerlukan insulin apabila kebutuhan insulinnya cukup tinggi yaitu lebih dari 40 unit per hari perlu lebih waspada karena kurang aman untuk puasa. Penderita diabetes yang tergolong diabetes tipe 1 atau IDDM yang untuk hidupnya mutlak tergantung suntikan insulin - penundaan pemberian insulin dapat sangat berbahaya. Oleh karena itu, penderita diabetes tipe 1 (diabetes usia muda yang tergantung penyuntikan insulin) bukan yang dianjurkan untuk berpuasa.

Mengapa harus yang sudah terkendali baik? Diabetes yang terkendali baik, ialah mereka yang gula darahnya tidak melebihi 180 mg% sehari-harinya. Apabila gula darah penderita melebihi 180 mg% (miligram per 100 ml darah), artinya melebihi harga ambang ginjal untuk gula, gula akan keluar bersama urine (air kencing). Dengan adanya gula di dalam urine maka akan banyak air yang ditarik keluar bersama urine tersebut.

Hal itu menyebabkan penderita menjadi beser yaitu lebih sering dan lebih banyak buang air kecil. Akibat selanjutnya, badan akan “menjadi kering” (dehidrasi) dan memacu rasa haus untuk minum sebanyak-banyaknya sehingga penderita akan selalu merasa haus. Secara tidak disadari ini adalah mekanisme tubuh untuk mengatasi dehidrasi, menjaga agar tubuh tidak kering. Apabila pada keadaan seperti itu orang tidak boleh minum, karena berpuasa, dapat kita bayangkan apa yang terjadi, yaitu terjadinya “kekeringan” tubuh dan orang menjadi sangat lemah. Keadaan itu sangat membahayakan.

Lalu bagaimana pengaturan makan (diet) untuk diabetesi? Dengan adanya perubahan waktu tanpa makan/minum pada bulan Ramadan yang berbeda dengan pada hari-hari biasa, tentu akan terjadi pula perubahan jadwal pada diet diabetes. Bagaimana kita harus mengaturnya? Dari rumus 3J, maka selama bulan puasa yang terutama berubah adalah jadwalnya. Jumlahnya ditentukan oleh jumlah kalori yang dibutuhkan sehari-hari, disesuaikan dengan berat ringannya pekerjaannya. Jumlah makan tidak boleh lebih dari itu agar insulin yang terbatas di dalam tubuh dapat dimanfaatkan secukupnya. Tidak boleh kurang agar kebutuhan hidup sehat sehari-hari dapat dipenuhi. Prinsip-prinsip ini tetap berlaku kapan saja, juga pada waktu menjalani ibadah puasa. Apakah cukup dengan makan buka dan sahur saja? Makan yang hanya dua kali per hari dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula yang besar. Telah diketahui bahwa kelainan fisikologik utama pada diabetes ialah ketidakmampuan untuk menyimpan energi atau kalori (yang berasal dari makanan) untuk kemudian dapat dipakai sewaktu-waktu sehingga pada diabetes, pada umumnya, diperlukan jadwal makan yang lebih sering. Jumlah kalori yang dikonsumsi penderita diabetes yang berpuasa sama dengan hari-hari biasa, hanya jadwalnya yang berbeda.

Pengaturan obat

Bagi mereka yang mendapat obat penurun gula, tablet (OHO) atau insulin, jadwal minum obatnya pun harus berubah sesuai dengan jadwal makan dan kegiatan. Ada tiga kelompok OHO yang dikenal, yaitu, Golongan Sulfonilurea (Diabinese, Daonil, Euglucon, Diamicron, Mini-diab, Glucotrol, Glurenorm, Amaryl, dll.); Golongan Biguanide; metformin (Glucophage, Glucotka, Zumamet, dll.) dan Golongan Inhibitor Glukosidase alfa/Acarbose (Glucobay). Akhir-akhir ini terdapat suatu golongan lain yaitu Repaglinide (Novonorm).

Obat satu kali sehari. Bila biasanya obat tersebut hanya didapat satu kali dan diminum pagi hari yaitu sekitar makan pagi, pada bulan puasa obat tadi diminum satu kali pula yaitu pada waktu buka puasa, sekitar makan porsi buka. Karena salat harus didahulukan, dapat membatalkan puasa dengan minum dahulu. kemudian salat, lalu minum obat. Setelah kurang lebih seperempat jam kemudian baru buka puasa yang sebenarnya. Cara lainnya, minum dahulu, kemudian minum obat, langsung salat, baru makan buka puasa. Cara yang terakir ini kadang-kadang ada kerugiannya, yaitu dapat timbul hipoglikemi (gula terlalu rendah).

Obat dua kali sehari. Apabila biasanya obat diminum dua kali sehari yaitu pagi dan malam, pada bulan Puasa dosis pagi diminum pada waktu buka, dosis malam dimakan pada waktu sahur.

Obat tiga kali sehari. Obat yang diberikan tiga kali sehari biasa ialah obat yang mempunyai masa kerja yang pendek. Apabila biasanya mendapat obat tiga kali sehari, pada waktu bulan Puasa diminum pada waktu buka, makan malam dan sahur.

Suntikan insulin. Bagaimana dengan mereka yang mendapat suntikan insulin? Jadwalnya sama dengan perubahan jadwal obat seperti yang disebutkan di atas. Namun, biasanya mereka yang memerlukan suntikan tiga kali sehari atau lebih atau memerlukan dosis lebih dari 40 unit/hari tidak dianjurkan puasa. Demikian pula yang termasuk golongan diabetes tipe 1 (NIDDM).

Olahraga. Olahraga yang biasa dilakukan sehari-hari, pada bulan Puasa dapat tetap dilakukan untuk menjaga kebugaran, tetapi tidak untuk meningkatkan kebugaran itu. Olahraga dapat dilakukan pagi atau sore hari. Namun, lebih dianjurkan untuk dilakukan sore hari menjelang buka karena setelah olahraga dapat segera minum. Apabila olahraga akan dilakukan pada pagi hari, obat yang diberikan pada waktu sahur sebaiknya setengah dosis saja.

Hal yang penting untuk diperhatikan

Hipoglikemi (kadar gula darah yang terlalu rendah) dapat terjadi pada diabetesi yang mendapat ( penurun gula, khususnya golongan sulfonilurea atau obat kombinasi atau insulin, waktu menjalani ibadah puasa ini. Suatu keadaan yang berbahaya. Hal ini terjadi apabila makan yang teriambat atau kerja/olah raga yang tiba-tiba berat tanpa pengurangan jumlah obat atau tanpa tambahan makan. Gejalanya ialah tiba-tiba lapar luar biasa, berkeringat dingin, dan bedebar-debar. Apabila tidak segera diatasi, dapat cepat menurunkan kesadaran. Setiap diabetesi harus mengenal gejala tersebut. Pada keadaan hipoglikemi, orang tersebut harus membatalkan puasabya, cepat minum air gula atau makan apa saja yang mengandung gula (permen, kue). Jangan berpikir sayang karena sebentar lagi waktu berbuka karena apabila terlambat diatasi dapat sangat membahayakan hidup. Toh hari puasa yang batal itu dapat dibayar lain kali.

Jadwal khusus

Hal lain yang perlu diperhatikan penderita diabetes (diabetesi) yang berpuasa adalah (1) Pada hari pertama puasa waktu sahur pertama, obat penurun gula (tablet atau suntikan) yang biasanya diberikan sekitar makan pagi, tidak usah diberikan. Obat baru diberikan pada waktu buka puasa petang harinya. (2) Pada hari terakhir, waktu buka puasa, obat diberikan setengah dosis. (3) Pada hari Lebaran, obat mulai diberikan seperti pada hari-hari sebelum puasa.

Pada perubahan jadwal mungkin ada guncangan-guncangan kadar gula darah, tetapi sifatnya hanya sementara, terutama pada hari pertama sesudah Idulfitri. Hal ini karena adanya perubahan waktu minum obat.

Amankah Diabetesi Berpuasa? Penderita Diabetes Wajib Tahu!

Mari Sehat
Setiap tahun para diabetesi (penderita diabetes mellitus/sakit kencing manis) khususnya yang termasuk “pendatang baru” banyak yang bertanya-tanya, “Bolehkah saya menjalani ibadah puasa? Apakah cukup aman bagi saya puasa sebulan penuh? Kalau laik untuk berpuasa bagaimana pula pengaturan makan (diet)-nya dan bagaimana pengaturan obatnya? Hal-hal apa yang perlu diperhatikan selama menjalani ibadah puasa tersebut?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali tidak dapat dijawab sendiri dengan memuaskan. Di antara para diabetesi mungkin juga ada yang berpendapat bahwa namanya juga “sakit kencing manis”, artinya kan sakit. Bukankah orang yang sakit boleh tidak berpuasa? Atau mungkin ada pula pernyataan, “Mengapa harus bertanya-tanya. Saya in tidak merasa apa-apa, berarti ya tidak sakit, jadi ya puasa saja.” Untuk membantu para diabetesi yang belum mendapat penjelasan dari dokternya mengenai hal-hal tersebut, di sini akan mencoba memberikan beberapa keterangan atau jawaban atas pertanyaan di atas tadi. Akan tetapi, belum sampai kepada inti persoalannya dan untuk dapat lebih memahami masalahnya, akan disampaikan secara singkat tentang apa itu diabetes dan mengapa perlu dibicarakan secara khusus.

Ketentuan puasa Ramadan

Puasa bulan Ramadan adalah wajib hukumnya bagi umat Islam seperti dinyatakan pada surat Al-Baqarah ayat 183, “Hai orang-ang yang beriman diwajibkan kamu berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan juga atas orang-orang yang sebelummu. Semoga kamu menjadi orang yang raya “. Bagi yang sakit atau tidak ikut menjalankan ibadah ini ada kemudahan yang ditentukan pada ayat-’ 184 surat yang sama, “Puasa itu hanya beberapa hari yang telah ditentukan, tetapi siapa yang sakit diantaramu atau dalam perjalanan, boleh tidak berpuasa, tapi puasakanlah bilangan hari yang tidak dipuasakan itu di hari yang lain “. Dapat dilihat dari ayat-ayat itu bahwa orang yang sakit atau orang-orang yang tidak kuat dapat ikut mengerjakan puasa, tetapi wajibmembayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin.

Dua Golongan Diabetes

Ada beberapa tipe diabetes tetapi yang utama yaitu diabetes tipe-2 = NIDDM (non insulin dependent diabetes mellitus), diabetes yang biasanya mengenai penderita dewasa yang jumlahnya lebih dari 95% dari seluruh penderita diabetes. Tipe diabetes utama yang lain ialah tipe 1 = IDDM (insulin dependent diabetes mellitus) yaitu diabetes yang tergantung mutlak pada pemberian insulin. Yang termasuk golongan ini biasanya mereka yang menderita diabetes sejak anak-anak dan mendapat insulin setiap hari. Pada pengobatannya harus langsung mendapat insulin.

Apakah diabetesi termasuk orang sakit? Dalam keadaan terkendali, baik dan sedang tidak menderita penyakit lain diabetesi termasuk orang yang cukup sehat. Dari penelitian-penelitian terhadap penderita diabetes yang berpuasa sebulan penuh di beberapa kota besar di Indonesia didapatkan bahwa mereka yang diabetesnya terkendalikan dengan baik, tidak mengalami kesukaran atau gangguan selama itu’. Bahkan, pada sebagian penderita, pada akhir puasa mendapatkan penurunan kadar gula dan kadar kolesterol, dan pada beberapa diabetesi yang gemuk berat badannya turun.

Lalu diabetesi yang bagaimana yang laik berpuasa? Seperti disebutkan di atas maka penderita diabetes, selama gula darahnya terkendali cukup baik dan tidak sedang menderita penyakit lain, sebenarnya adalah orang yang sehat, sesehat siapa saja. Mereka inilah yang tidak berisiko atau laik untuk berpuasa. Bagi mereka yang sebelumnya tidak pernah taat menjalankan pengaturan makan sering kali menganggap bahwa bulan puasa ini merupakan kesempatan untuk taat. Tetapi, dalam menerapkan anggapan tersebut mereka harus berhati-hati.

Selain dari keterkendaliannya, kelaikan puasa dapat pula kita lihat dari berat ringannya diabetes. Tingkat beratnya diabetes ditentukan oleh beberapa hal, antara lain oleh adanya komplikasi yang telah terjadi. Namun, secara tidak langsung beratnya diabetes dapat pula dilihat dari cara pengendaliannya, yaitu disebut ringan, apabila diabetes cukup terkendali dengan diet dan olahraga saja. Ringan sampai sedang, apabila diabetesnya terkendali dengan selain diet juga dengan tablet penurun gula atau disebut juga obat hipoglikemik oral (OHO). Disebut berat, apabila untuk terkendalinya diabetes diperlukan insulin. Mereka yang diabetesnya termasuk ringan sampai sedang dan terkendali seperti di atas, dapat dinyatakan aman untuk berpuasa.

Diabetes tipe 2 (diabetes dewasa) yang memerlukan insulin apabila kebutuhan insulinnya cukup tinggi yaitu lebih dari 40 unit per hari perlu lebih waspada karena kurang aman untuk puasa. Penderita diabetes yang tergolong diabetes tipe 1 atau IDDM yang untuk hidupnya mutlak tergantung suntikan insulin - penundaan pemberian insulin dapat sangat berbahaya. Oleh karena itu, penderita diabetes tipe 1 (diabetes usia muda yang tergantung penyuntikan insulin) bukan yang dianjurkan untuk berpuasa.

Mengapa harus yang sudah terkendali baik? Diabetes yang terkendali baik, ialah mereka yang gula darahnya tidak melebihi 180 mg% sehari-harinya. Apabila gula darah penderita melebihi 180 mg% (miligram per 100 ml darah), artinya melebihi harga ambang ginjal untuk gula, gula akan keluar bersama urine (air kencing). Dengan adanya gula di dalam urine maka akan banyak air yang ditarik keluar bersama urine tersebut.

Hal itu menyebabkan penderita menjadi beser yaitu lebih sering dan lebih banyak buang air kecil. Akibat selanjutnya, badan akan “menjadi kering” (dehidrasi) dan memacu rasa haus untuk minum sebanyak-banyaknya sehingga penderita akan selalu merasa haus. Secara tidak disadari ini adalah mekanisme tubuh untuk mengatasi dehidrasi, menjaga agar tubuh tidak kering. Apabila pada keadaan seperti itu orang tidak boleh minum, karena berpuasa, dapat kita bayangkan apa yang terjadi, yaitu terjadinya “kekeringan” tubuh dan orang menjadi sangat lemah. Keadaan itu sangat membahayakan.

Lalu bagaimana pengaturan makan (diet) untuk diabetesi? Dengan adanya perubahan waktu tanpa makan/minum pada bulan Ramadan yang berbeda dengan pada hari-hari biasa, tentu akan terjadi pula perubahan jadwal pada diet diabetes. Bagaimana kita harus mengaturnya? Dari rumus 3J, maka selama bulan puasa yang terutama berubah adalah jadwalnya. Jumlahnya ditentukan oleh jumlah kalori yang dibutuhkan sehari-hari, disesuaikan dengan berat ringannya pekerjaannya. Jumlah makan tidak boleh lebih dari itu agar insulin yang terbatas di dalam tubuh dapat dimanfaatkan secukupnya. Tidak boleh kurang agar kebutuhan hidup sehat sehari-hari dapat dipenuhi. Prinsip-prinsip ini tetap berlaku kapan saja, juga pada waktu menjalani ibadah puasa. Apakah cukup dengan makan buka dan sahur saja? Makan yang hanya dua kali per hari dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula yang besar. Telah diketahui bahwa kelainan fisikologik utama pada diabetes ialah ketidakmampuan untuk menyimpan energi atau kalori (yang berasal dari makanan) untuk kemudian dapat dipakai sewaktu-waktu sehingga pada diabetes, pada umumnya, diperlukan jadwal makan yang lebih sering. Jumlah kalori yang dikonsumsi penderita diabetes yang berpuasa sama dengan hari-hari biasa, hanya jadwalnya yang berbeda.

Pengaturan obat

Bagi mereka yang mendapat obat penurun gula, tablet (OHO) atau insulin, jadwal minum obatnya pun harus berubah sesuai dengan jadwal makan dan kegiatan. Ada tiga kelompok OHO yang dikenal, yaitu, Golongan Sulfonilurea (Diabinese, Daonil, Euglucon, Diamicron, Mini-diab, Glucotrol, Glurenorm, Amaryl, dll.); Golongan Biguanide; metformin (Glucophage, Glucotka, Zumamet, dll.) dan Golongan Inhibitor Glukosidase alfa/Acarbose (Glucobay). Akhir-akhir ini terdapat suatu golongan lain yaitu Repaglinide (Novonorm).

Obat satu kali sehari. Bila biasanya obat tersebut hanya didapat satu kali dan diminum pagi hari yaitu sekitar makan pagi, pada bulan puasa obat tadi diminum satu kali pula yaitu pada waktu buka puasa, sekitar makan porsi buka. Karena salat harus didahulukan, dapat membatalkan puasa dengan minum dahulu. kemudian salat, lalu minum obat. Setelah kurang lebih seperempat jam kemudian baru buka puasa yang sebenarnya. Cara lainnya, minum dahulu, kemudian minum obat, langsung salat, baru makan buka puasa. Cara yang terakir ini kadang-kadang ada kerugiannya, yaitu dapat timbul hipoglikemi (gula terlalu rendah).

Obat dua kali sehari. Apabila biasanya obat diminum dua kali sehari yaitu pagi dan malam, pada bulan Puasa dosis pagi diminum pada waktu buka, dosis malam dimakan pada waktu sahur.

Obat tiga kali sehari. Obat yang diberikan tiga kali sehari biasa ialah obat yang mempunyai masa kerja yang pendek. Apabila biasanya mendapat obat tiga kali sehari, pada waktu bulan Puasa diminum pada waktu buka, makan malam dan sahur.

Suntikan insulin. Bagaimana dengan mereka yang mendapat suntikan insulin? Jadwalnya sama dengan perubahan jadwal obat seperti yang disebutkan di atas. Namun, biasanya mereka yang memerlukan suntikan tiga kali sehari atau lebih atau memerlukan dosis lebih dari 40 unit/hari tidak dianjurkan puasa. Demikian pula yang termasuk golongan diabetes tipe 1 (NIDDM).

Olahraga. Olahraga yang biasa dilakukan sehari-hari, pada bulan Puasa dapat tetap dilakukan untuk menjaga kebugaran, tetapi tidak untuk meningkatkan kebugaran itu. Olahraga dapat dilakukan pagi atau sore hari. Namun, lebih dianjurkan untuk dilakukan sore hari menjelang buka karena setelah olahraga dapat segera minum. Apabila olahraga akan dilakukan pada pagi hari, obat yang diberikan pada waktu sahur sebaiknya setengah dosis saja.

Hal yang penting untuk diperhatikan

Hipoglikemi (kadar gula darah yang terlalu rendah) dapat terjadi pada diabetesi yang mendapat ( penurun gula, khususnya golongan sulfonilurea atau obat kombinasi atau insulin, waktu menjalani ibadah puasa ini. Suatu keadaan yang berbahaya. Hal ini terjadi apabila makan yang teriambat atau kerja/olah raga yang tiba-tiba berat tanpa pengurangan jumlah obat atau tanpa tambahan makan. Gejalanya ialah tiba-tiba lapar luar biasa, berkeringat dingin, dan bedebar-debar. Apabila tidak segera diatasi, dapat cepat menurunkan kesadaran. Setiap diabetesi harus mengenal gejala tersebut. Pada keadaan hipoglikemi, orang tersebut harus membatalkan puasabya, cepat minum air gula atau makan apa saja yang mengandung gula (permen, kue). Jangan berpikir sayang karena sebentar lagi waktu berbuka karena apabila terlambat diatasi dapat sangat membahayakan hidup. Toh hari puasa yang batal itu dapat dibayar lain kali.

Jadwal khusus

Hal lain yang perlu diperhatikan penderita diabetes (diabetesi) yang berpuasa adalah (1) Pada hari pertama puasa waktu sahur pertama, obat penurun gula (tablet atau suntikan) yang biasanya diberikan sekitar makan pagi, tidak usah diberikan. Obat baru diberikan pada waktu buka puasa petang harinya. (2) Pada hari terakhir, waktu buka puasa, obat diberikan setengah dosis. (3) Pada hari Lebaran, obat mulai diberikan seperti pada hari-hari sebelum puasa.

Pada perubahan jadwal mungkin ada guncangan-guncangan kadar gula darah, tetapi sifatnya hanya sementara, terutama pada hari pertama sesudah Idulfitri. Hal ini karena adanya perubahan waktu minum obat.
----------
Share this article :

Tidak ada komentar