Halaman

    Social Items

Tempat Wisata Budaya Ciung Wanara ini merupakan situs purbakala, disebut juga Situs Karangkamulyan. Berlokasi di perbatasan Kabupaten Ciamis-Kota Banjar, situs berisi tumpukan batu kuno berupa menhir atau tugu, serta makam di hutan seluas 25,5 hektare, tempat Kerajaan Galuh Purba terakhir yang diperintah Ciung Wanara.

Ciung Wanara adalah keturunan dari Raja Prabu Permana Dikusumah, raja yang memerintah Kerajaan Galuh Purba dengan wilayah sangat luas pada abad 7-8 Masehi. Kerajaannya membentang dari Hujung Kulon, Banten, hingga Hujung Galuh atau muara Sungai Brantas dekat Kota Surabaya sekarang. Kisah Ciung Wanara diturunkan melalui pantun Sunda serta tembang, lalu dituliskan ke dalam buku oleh penulis Sunda.

Alkisah, Raja Prabu Permana Dikusumah memiliki dua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Setelah lama memerintah kerajaan, raja memutuskan menjadi pertapa. Ia memilih menterinya, Bondan Sarati atau Aria Kebonan, untuk mengurus kerajaan dengan syarat memerintah dengan benar serta menjaga kedua ratunya.

Sebelum bertakhta, Aria Kebonan diubah penampilannya sehingga mirip dengan raja serta mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Semua rakyat memercayainya, kecuali Uwa Batara Lengser, pembesar istana.

Prabu Barma Wijaya memerintah kerajaan dengan sewenang-wenang. Tak berapa lama, kedua ratu memimpikan kejatuhan bulan dan mereka hamil. Setelah yakin kedua ratu hamil, Prabu menghendaki pertapa itu mati.

Kemudian, Dewi Pangrenyep melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Hariang Banga. Tak lama, Dewi Naganingrum pun melahirkan. Namun, kelahiran bayi Dewi Naganingrum tak dikehendaki Raja Barma Wijaya. Melalui persekongkolan dengan Dewi Pangrenyep, bayi Dewi Naganingrum ditukar dengan seekor anak anjing dan bayinya dibuang ke sungai.

Dewi Naganingrum hendak dihukum mati, tetapi disembunyikan di hutan oleh Uwa Batara Lengser. Bayi laki-laki yang hanyut diselamatkan oleh sepasang suami istri tua di Desa Geger Sunten, tepian Sungai Citanduy. Mereka biasa memasang bubu dari bambu sebagai perangkap ikan. Di bubu itulah keranjang bayi tersangkut.

Seiring dengan waktu, bayi itu tumbuh menjadi pemuda tampan. Saat ikut orangtua angkatnya berburu di hutan, anak itu melihat sejenis burung dan kera. Lalu ditanyakanlah nama hewan itu, yang dalam bahasa Sunda adalah ciung dan wanara. Pemuda itu pun dijuluki Ciung Wanara. Ia lalu memenangi separuh Kerajaan Galuh melalui adu sabung ayam dan bertemu saudaranya, Hariang Banga, putra mahkota. Perang saudara pun tak terelakkan.

Untuk menengahi, Raja Prabu Permana Dikusumah tiba-tiba muncul kembali, lantas membagi kerajaan menjadi dua, Kerajaan Galuh Purba diperintah oleh Ciung Wanara dan kerajaan sebelah timur atau Jawa diperintah oleh Hariang Banga, dipisahkan Sungai Pamali atau Cipamali di Brebes. 

Wisata Budaya Ciung Wanara, Situs Purbakala Tempat Kerajaan Galuh Purba Terakhir

Mari Sehat
Tempat Wisata Budaya Ciung Wanara ini merupakan situs purbakala, disebut juga Situs Karangkamulyan. Berlokasi di perbatasan Kabupaten Ciamis-Kota Banjar, situs berisi tumpukan batu kuno berupa menhir atau tugu, serta makam di hutan seluas 25,5 hektare, tempat Kerajaan Galuh Purba terakhir yang diperintah Ciung Wanara.

Ciung Wanara adalah keturunan dari Raja Prabu Permana Dikusumah, raja yang memerintah Kerajaan Galuh Purba dengan wilayah sangat luas pada abad 7-8 Masehi. Kerajaannya membentang dari Hujung Kulon, Banten, hingga Hujung Galuh atau muara Sungai Brantas dekat Kota Surabaya sekarang. Kisah Ciung Wanara diturunkan melalui pantun Sunda serta tembang, lalu dituliskan ke dalam buku oleh penulis Sunda.

Alkisah, Raja Prabu Permana Dikusumah memiliki dua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Setelah lama memerintah kerajaan, raja memutuskan menjadi pertapa. Ia memilih menterinya, Bondan Sarati atau Aria Kebonan, untuk mengurus kerajaan dengan syarat memerintah dengan benar serta menjaga kedua ratunya.

Sebelum bertakhta, Aria Kebonan diubah penampilannya sehingga mirip dengan raja serta mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Semua rakyat memercayainya, kecuali Uwa Batara Lengser, pembesar istana.

Prabu Barma Wijaya memerintah kerajaan dengan sewenang-wenang. Tak berapa lama, kedua ratu memimpikan kejatuhan bulan dan mereka hamil. Setelah yakin kedua ratu hamil, Prabu menghendaki pertapa itu mati.

Kemudian, Dewi Pangrenyep melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Hariang Banga. Tak lama, Dewi Naganingrum pun melahirkan. Namun, kelahiran bayi Dewi Naganingrum tak dikehendaki Raja Barma Wijaya. Melalui persekongkolan dengan Dewi Pangrenyep, bayi Dewi Naganingrum ditukar dengan seekor anak anjing dan bayinya dibuang ke sungai.

Dewi Naganingrum hendak dihukum mati, tetapi disembunyikan di hutan oleh Uwa Batara Lengser. Bayi laki-laki yang hanyut diselamatkan oleh sepasang suami istri tua di Desa Geger Sunten, tepian Sungai Citanduy. Mereka biasa memasang bubu dari bambu sebagai perangkap ikan. Di bubu itulah keranjang bayi tersangkut.

Seiring dengan waktu, bayi itu tumbuh menjadi pemuda tampan. Saat ikut orangtua angkatnya berburu di hutan, anak itu melihat sejenis burung dan kera. Lalu ditanyakanlah nama hewan itu, yang dalam bahasa Sunda adalah ciung dan wanara. Pemuda itu pun dijuluki Ciung Wanara. Ia lalu memenangi separuh Kerajaan Galuh melalui adu sabung ayam dan bertemu saudaranya, Hariang Banga, putra mahkota. Perang saudara pun tak terelakkan.

Untuk menengahi, Raja Prabu Permana Dikusumah tiba-tiba muncul kembali, lantas membagi kerajaan menjadi dua, Kerajaan Galuh Purba diperintah oleh Ciung Wanara dan kerajaan sebelah timur atau Jawa diperintah oleh Hariang Banga, dipisahkan Sungai Pamali atau Cipamali di Brebes. 

Share this article :

Tidak ada komentar