Halaman

    Social Items

Berdasarkan data Unicef, lebih dari 300.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal dunia karena penyakit diare di tahun 2015. Tak heran jika diare dianggap sebagai pembunuh anak-anak di bawah umur terbesar kelima di seluruh dunia.

Di Indonesia, angkanya bisa mencapai lebih dari seratus ribu anak yang meninggal dunia. Padahal, seperti pneumonia, diare juga dapat dicegah agar tidak terjadi pada anak. Angka itu sangat mengkhawatirkan karena untuk pencegahannya sangat mudah, antara lain menjaga sanitasi lingkungan, memilih makanan yang higienis, serta rajin mencuci tangan.

Diare memang bukan kasus baru di dunia kesehatan anak. Nyaris setiap anak, utamanya anak balita, pernah terkena diare, baik tingkat rendah maupun gawat. Menurut review yang dipublikasikan dalam laman The Lancet, sebagian besar kasus diare yang terjadi disebabkan oleh enam patogen. Patogen yang paling banyak berperan sebagai penyebab dari diare adalah adenovirus, enterotoxin-producing E. coli, Cryptosporidium, Shigella dan rotavirus, dan Campylobacter.

Diare adalah gangguan sistem dan organ pencernaan akibat virus, bakteri, jamur, maupun toksin (keracunan). Diare ditandai dengan perilaku buang air lebih dari tiga kali sehari, dengan feses yang lebih lunak, cair, bahkan berbau.

Diare erat kaitannya dengan dehidrasi. Saat terjadi diare, seseorang akan kehilangan sebagian besar cairan dan elektrolit dalam tubuhnya. Oleh karena itu, ciri-ciri anak yang menderita diare juga sama dengan gejala dehidrasi alias kekurangan cairan tubuh, seperti anak terlihat lemas, ubun-ubun cekung pada bayi, kelopak mata menjorok, bibir kering, minum dengan cepat, serta elastisitas kulit terutama bagian perut berkurang.

Upaya penanganan pertamanya hanya satu, terus beri minum karena anak tengah kekurangan cairan. Rata-rata orangtua enggan memberi minum anak karena khawatir muntah. Padahal, tidak apa-apa. Jangan sampai anak lebih kehilangan cairan lagi sehingga kondisinya tambah gawat.

Muntah pada bayi, biasanya disebabkan gastroentritis atau gangguan pada saluran pencernaan. Akan tetapi, itu tidak menjadi halangan pemberian cairan pada anak untuk mencegah dehidrasi. Walau muntah, tetaplah berikan minum.

Misalnya, diberi minum 200 ml, tapi anak kemudian muntah. Siapa tahu yang dimuntahkannya itu hanya 100 ml, jadi kan masih ada cairan yang tersimpan di tubuhnya.

Satu hal lagi, selama diare, epitel usus rusak sehingga tidak bisa menyerap laktosa. Sementara, laktosa yang gagal diserap bisa "dimakan" oleh kuman sehingga menyebabkan gas dan asam. Hal tersebut yang biasanya memicu muntah. Ini artinya, selama diare sebaiknya tidak memberikan susu yang mengandung laktosa kecuali ASI.

Untuk penanganan, paling baik jika cairan yang diberikan pada anak berupa elektrolit atau cairan garam seperti oralit. Hanya, dari segi rasa banyak anak yang tidak suka. Oleh karena itu, meminum air mineral saja dalam jumlah banyak sudah bisa menjadi pertolongan pertama.

Adapun pencegahan paling utama agar diare tidak menimpa anak adalah menjaga sanitasi dan barang-barang di sekitar anak dengan higienis. Biasakan cuci tangan setelah buang air, juga sebelum dan setelah makan.

Jika diare belum reda, bisa dibawa ke dokter. Biasanya, dokter akan melakukan pemeriksaan penyebab timbulnya diare. Jika akibat bakteri dan jamur, anak akan diresepkan antibiotik atau antijamur. Namun, untuk kasus diare akibat virus, rata-rata bisa sembuh sendiri.

Cara Cegah Diare dari Rumah

Mari Sehat
Berdasarkan data Unicef, lebih dari 300.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal dunia karena penyakit diare di tahun 2015. Tak heran jika diare dianggap sebagai pembunuh anak-anak di bawah umur terbesar kelima di seluruh dunia.

Di Indonesia, angkanya bisa mencapai lebih dari seratus ribu anak yang meninggal dunia. Padahal, seperti pneumonia, diare juga dapat dicegah agar tidak terjadi pada anak. Angka itu sangat mengkhawatirkan karena untuk pencegahannya sangat mudah, antara lain menjaga sanitasi lingkungan, memilih makanan yang higienis, serta rajin mencuci tangan.

Diare memang bukan kasus baru di dunia kesehatan anak. Nyaris setiap anak, utamanya anak balita, pernah terkena diare, baik tingkat rendah maupun gawat. Menurut review yang dipublikasikan dalam laman The Lancet, sebagian besar kasus diare yang terjadi disebabkan oleh enam patogen. Patogen yang paling banyak berperan sebagai penyebab dari diare adalah adenovirus, enterotoxin-producing E. coli, Cryptosporidium, Shigella dan rotavirus, dan Campylobacter.

Diare adalah gangguan sistem dan organ pencernaan akibat virus, bakteri, jamur, maupun toksin (keracunan). Diare ditandai dengan perilaku buang air lebih dari tiga kali sehari, dengan feses yang lebih lunak, cair, bahkan berbau.

Diare erat kaitannya dengan dehidrasi. Saat terjadi diare, seseorang akan kehilangan sebagian besar cairan dan elektrolit dalam tubuhnya. Oleh karena itu, ciri-ciri anak yang menderita diare juga sama dengan gejala dehidrasi alias kekurangan cairan tubuh, seperti anak terlihat lemas, ubun-ubun cekung pada bayi, kelopak mata menjorok, bibir kering, minum dengan cepat, serta elastisitas kulit terutama bagian perut berkurang.

Upaya penanganan pertamanya hanya satu, terus beri minum karena anak tengah kekurangan cairan. Rata-rata orangtua enggan memberi minum anak karena khawatir muntah. Padahal, tidak apa-apa. Jangan sampai anak lebih kehilangan cairan lagi sehingga kondisinya tambah gawat.

Muntah pada bayi, biasanya disebabkan gastroentritis atau gangguan pada saluran pencernaan. Akan tetapi, itu tidak menjadi halangan pemberian cairan pada anak untuk mencegah dehidrasi. Walau muntah, tetaplah berikan minum.

Misalnya, diberi minum 200 ml, tapi anak kemudian muntah. Siapa tahu yang dimuntahkannya itu hanya 100 ml, jadi kan masih ada cairan yang tersimpan di tubuhnya.

Satu hal lagi, selama diare, epitel usus rusak sehingga tidak bisa menyerap laktosa. Sementara, laktosa yang gagal diserap bisa "dimakan" oleh kuman sehingga menyebabkan gas dan asam. Hal tersebut yang biasanya memicu muntah. Ini artinya, selama diare sebaiknya tidak memberikan susu yang mengandung laktosa kecuali ASI.

Untuk penanganan, paling baik jika cairan yang diberikan pada anak berupa elektrolit atau cairan garam seperti oralit. Hanya, dari segi rasa banyak anak yang tidak suka. Oleh karena itu, meminum air mineral saja dalam jumlah banyak sudah bisa menjadi pertolongan pertama.

Adapun pencegahan paling utama agar diare tidak menimpa anak adalah menjaga sanitasi dan barang-barang di sekitar anak dengan higienis. Biasakan cuci tangan setelah buang air, juga sebelum dan setelah makan.

Jika diare belum reda, bisa dibawa ke dokter. Biasanya, dokter akan melakukan pemeriksaan penyebab timbulnya diare. Jika akibat bakteri dan jamur, anak akan diresepkan antibiotik atau antijamur. Namun, untuk kasus diare akibat virus, rata-rata bisa sembuh sendiri.

----------
Share this article :

Tidak ada komentar