Halaman

    Social Items

Sepuluh tahun lebih menggeluti karate membuat Asmaul Husna sudah yakin jika dunia ini adalah pilihan karier profesionalnya. Di usia yang menginjak 26 tahun, Husna membuktikan kemampuannya di arena laga. Peraih emas PON XVIII Riau 2012  untuk kelas plus (+) 68 kilogram ini bukan atlet sembarangan karen di banyak kejuaraan kemenangan nyaris selalu berada di genggamannya. Bahkan di PON XIX  2016 lalu ia menyumbang satu medali emas untuk Jawa Barat. 

Lahir di Denpasar, 5 Juni 1993, Husna sejatinya berdarah Aceh. Tuntas dinas sang ayah di Bali, tahun 2005, Husna sekeluarga pulang ke Takengon, Aceh Tengah. Ia mendapat kesenangan dan kegembiraan saat berlatih karate. Tak terpikir untuk serius berkarier di dunia bela diri ini, Husna hanya menjalani kesukaannya saja, seperti hobi.

Kemudian, ada yang melihat potensi besar dalam diri Husna. Ia pun didaftarkan ikut kejurda pelajar cabang karate di Banda Aceh dan berhasil jadi juara. Keluarga yang sempat melarang dan meragukan kemampuan karate Husna, berbalik mendukung penuh setelah ia membuktikan dengan deretan prestasi membanggakan.

Beranjak masuk SMA, Husna ditarik masuk PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) untuk atlet di Banda Aceh. Ada satu momen yang akan diingatnya seumur hidup, yakni saat mengikuti kejurnas di Jombang. Husna pulang tanpa hasil. Ia mengalami kekalahan pertamanya dalam pertandingan kelas junior.

Semangatnya sempat redup. Namun, Husna tak berhenti berlatih karate. Saat berlatih, hampir tak ada tantangan berat yang harus dihadapinya. Memutuskan terjun sepenuhnya di dunia karate rupanya tak hanya indah yang dirasa Husna. Pahit getir juga sempat dialami. Keberanian dan kesetiaan Husna diuji saat dihadapkan pada pilihan-pilihan besar. Tak terpilih masuk dalam line up kontingen Aceh pada PON XVIII, ia ditawari ikut seleksi di Provinsi Riau. Kerja kerasnya berbuah manis, pada ajang olah raga nasional itu ia menyumbang emas untuk Riau.

Pada tahun 2013 Husna dibawa oleh Harry Parulian (pelatih semasa di PPLP Banda Aceh) ke Jawa Barat dan menjadi warga Jabar. Sejak saat itu ia bertekad membela karate Jabar. Berkarier di Jabar bukan berarti mudah bagi Husna. Ia bisa dibilang harus mengulang lagi perjuangannya dari awal. Latihan yang ketat hingga melakukan program diet untuk mengembalikan proporsi tubuhnya agar mendapatkan performa maksimal.

Puji syukur ia panjatkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas raihan emas di Thailand. Padahal, ia hanya menyiapkan diri tiga bulan sebelum maju bertanding. Ia mengalahkan atlet asal Suriah setelah sebelumnya menumbangkan sesama perwakilan dari Indonesia serta dua atlet asal tuan rumah.

Persiapan yang minim itu karena ia lagi cedera. Cedera itu ia dapat saat latihan jelang SEA Games 2014. Gara-gara itu pula ia mengundurkan diri dari pelatnas. Ia ingin memulihkan cedera dulu baru maju (bertanding) lagi.

Menurut Husna, kunci kemenangannya di Thailand adalah bertanding cerdas. Sebisa mungkin ia mencari strategi yang menjatuhkan lawan dari titik lemahnya, dan efektif saat menggunakan kekuatan. 

Sama seperti atlet lain, ia juga punya rutinitas sendiri sebelum maju bertanding. Jika atlet lain memilih mendengarkan musik, Husna senang mendengarkan murattal Quran beberapa saat sebelum tanding. Tidak ingat kapan mulainya, pokoknya hati langsung jadi adem saja, pikiran lebih segar.

Husna yakin bisa menang karena mentalnya sudah terpoles tahunan, beradu keras di dunia karate tanah air. Baginya, atlet yang sudah cedera bukan tidak mungkin masih bisa tetap bersinar. Latihan selalu, fokus, bersemangat, dan harus punya mental baja.

Asmaul Husna Jatuh Bangun Membangun Karier Karate

Mari Sehat
Sepuluh tahun lebih menggeluti karate membuat Asmaul Husna sudah yakin jika dunia ini adalah pilihan karier profesionalnya. Di usia yang menginjak 26 tahun, Husna membuktikan kemampuannya di arena laga. Peraih emas PON XVIII Riau 2012  untuk kelas plus (+) 68 kilogram ini bukan atlet sembarangan karen di banyak kejuaraan kemenangan nyaris selalu berada di genggamannya. Bahkan di PON XIX  2016 lalu ia menyumbang satu medali emas untuk Jawa Barat. 

Lahir di Denpasar, 5 Juni 1993, Husna sejatinya berdarah Aceh. Tuntas dinas sang ayah di Bali, tahun 2005, Husna sekeluarga pulang ke Takengon, Aceh Tengah. Ia mendapat kesenangan dan kegembiraan saat berlatih karate. Tak terpikir untuk serius berkarier di dunia bela diri ini, Husna hanya menjalani kesukaannya saja, seperti hobi.

Kemudian, ada yang melihat potensi besar dalam diri Husna. Ia pun didaftarkan ikut kejurda pelajar cabang karate di Banda Aceh dan berhasil jadi juara. Keluarga yang sempat melarang dan meragukan kemampuan karate Husna, berbalik mendukung penuh setelah ia membuktikan dengan deretan prestasi membanggakan.

Beranjak masuk SMA, Husna ditarik masuk PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) untuk atlet di Banda Aceh. Ada satu momen yang akan diingatnya seumur hidup, yakni saat mengikuti kejurnas di Jombang. Husna pulang tanpa hasil. Ia mengalami kekalahan pertamanya dalam pertandingan kelas junior.

Semangatnya sempat redup. Namun, Husna tak berhenti berlatih karate. Saat berlatih, hampir tak ada tantangan berat yang harus dihadapinya. Memutuskan terjun sepenuhnya di dunia karate rupanya tak hanya indah yang dirasa Husna. Pahit getir juga sempat dialami. Keberanian dan kesetiaan Husna diuji saat dihadapkan pada pilihan-pilihan besar. Tak terpilih masuk dalam line up kontingen Aceh pada PON XVIII, ia ditawari ikut seleksi di Provinsi Riau. Kerja kerasnya berbuah manis, pada ajang olah raga nasional itu ia menyumbang emas untuk Riau.

Pada tahun 2013 Husna dibawa oleh Harry Parulian (pelatih semasa di PPLP Banda Aceh) ke Jawa Barat dan menjadi warga Jabar. Sejak saat itu ia bertekad membela karate Jabar. Berkarier di Jabar bukan berarti mudah bagi Husna. Ia bisa dibilang harus mengulang lagi perjuangannya dari awal. Latihan yang ketat hingga melakukan program diet untuk mengembalikan proporsi tubuhnya agar mendapatkan performa maksimal.

Puji syukur ia panjatkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas raihan emas di Thailand. Padahal, ia hanya menyiapkan diri tiga bulan sebelum maju bertanding. Ia mengalahkan atlet asal Suriah setelah sebelumnya menumbangkan sesama perwakilan dari Indonesia serta dua atlet asal tuan rumah.

Persiapan yang minim itu karena ia lagi cedera. Cedera itu ia dapat saat latihan jelang SEA Games 2014. Gara-gara itu pula ia mengundurkan diri dari pelatnas. Ia ingin memulihkan cedera dulu baru maju (bertanding) lagi.

Menurut Husna, kunci kemenangannya di Thailand adalah bertanding cerdas. Sebisa mungkin ia mencari strategi yang menjatuhkan lawan dari titik lemahnya, dan efektif saat menggunakan kekuatan. 

Sama seperti atlet lain, ia juga punya rutinitas sendiri sebelum maju bertanding. Jika atlet lain memilih mendengarkan musik, Husna senang mendengarkan murattal Quran beberapa saat sebelum tanding. Tidak ingat kapan mulainya, pokoknya hati langsung jadi adem saja, pikiran lebih segar.

Husna yakin bisa menang karena mentalnya sudah terpoles tahunan, beradu keras di dunia karate tanah air. Baginya, atlet yang sudah cedera bukan tidak mungkin masih bisa tetap bersinar. Latihan selalu, fokus, bersemangat, dan harus punya mental baja.

----------
Share this article :

Tidak ada komentar