Selasa, 24 September 2019

Kraniotomi, Prosedur Bedah Saraf untuk Mengakses Isi Otak

Secara definisi, kraniotomi adalah prosedur dalam ilmu bedah saraf agar dapat mengakses isi otak. Orang zaman dulu sudah mengenal prosedur semacam ini yang dikenal dengan sebutan trepanasi yang secara harfiah berarti membuka batok kepala manusia untuk mencegahnya dari kematian. Tentu saja pada praktiknya jauh berbeda dengan ilmu kraniotomi masa kini.

Kraniotomi bisa digunakan sebagai penanganan kasus tumor, perdarahan di otak (strok) atau untuk merehabilitasi cacat bawaan yang bagian kepalanya harus direkonstruksi. Ada dua jenis kraniotomi, yakni kraniotomi standar dan minikraniotomi. Saat ini, perkembangan ilmu kraniotomi semakin pesat sebingga prosedur minikraniotomi dianggap lebih baik.

Kraniotomi harus spesifik menangani permasalahan anomali dari otak. Tidak boleh menyebabkan kerusakan bagian otak yang normal. Membuka tempurung kepala itu tidak sulit. Bahkan, setiap dokter istilahnya bisa melakukannya. Akan tetapi, membuat pertimbangan serta keterampilan untuk menghindari kerusakan otak yang lebih luas dibutuhkan studi spesifik yang menjadi keahlian dokter spesialis bedah saraf.

Misalnya dalam memutuskan saat operasi otak, apalagi jika lokasinya berada ditengah-tengah, usahakan lebih cenderung mengarah ke bagian otak kanan daripada otak kiri. Itu karena secara fungsi otak bagian kanan bertugas mengerjakan hal-hal kesenian, sedangkan otak kiri berfungsi untuk aktivitas motorik.

Organ yang paling penting dari otak adalah batang otak, struktur pembuluh darah, dan struktur saraf kranial. Semakin mendekati batang otak, area tersebut menjadi makin penting. Juga bila pada saat operasi menyentuh pembuluh darah, denyut nadi otomatis turun.

Tindakan kraniotomi di masa kini semakin dimudahkan oleh instrumen diagnosis seperti CTscan atau MRI. Keduanya membantu dokter bedah saraf untuk menentukan lokasi tepatnya permasalahan di dalam otak.

CT scan digunakan untuk mengetahui adanya pendarahan yang kemudian bisa ditangani dengan operasi endovaskuler untuk menjepit (clipping) pembuluh darah yang pecah. Sementara itu, MRI bisa digunakan untuk mencari sumber perdarahan yang terjadi pada otak.

Oleh karena itu, pada kraniotomi ada empat faktor yang menjadi standar ideal tindakan. Yaitu keterampilan dokter bedah, besar kecilnya lassie (area masalah pada otak), jenis lokasi operasi terdapat di daerah yang "penting" atau tidak, serta pertimbangan praoperasi yang mana pada masing-masing pasien anatominya pasti berbeda.

Sebelum operasi kraniotomi, lumrah dilakukan mapping atau pemetaan berdasarkan hasil MRI yang disebut tractography atau trekking saraf pada saat operasi.

Pada kraniotomi juga dikenal dengan prosedur awake craniotomy. Itu adalah prosedur yang dilakukan dengan pasien yang sepenuhnya bangun atau sadar. Biasanya, ini dilakukan pada pasien dengan tumor di otak bagian kiri. Di sana terdapat saraf bicara sehingga untuk memastikan sarafnya tidak kena, pasien harus diajak ngobrol saat tempurungnya dibuka, pasien tentu saja dibius. Namun, ketika dilakukan, operasi pengambilan tumor pada otak, pasien dibangunkan. Jika saat ngobrol pasien melantur, bisa jadi karena ada saraf bicaranya yang kena.

Awake craniotomy juga menyangkut kraniotomi motorik. Pada saat operasi, pasien dibangunkan dan diminta untuk menggerakkan tangan. Tujuannya tentu saja untuk melihat apakah saraf motoriknya berfungsi baik atau tidak.

Setelah operasi, tulang tengkorak harus direkatkan kembali. Biasanya, dokter menggunakan miniplate dan miniscrew berukuran 4-5 mm dari bahan titanium. Bekas potongan tulang setelah operasi tidak akan terfiksasi. Akan tetapi, dapat dibantu dan dipercepat perlekatannya dengan semen tulang.

Selepas kraniotomi akan tumbuh rambut baru di atas tempurung yang dibuka. Itu karena sebelum operasi, pasien biasanya harus dicukur rambut agar tidak menambah faktor infeksi.

Pascakraniotomi, pasien bisa mengonsumsi obat-obatan neurotropik, antibiotik, juga tambahan kalsium. Biasanya, dokter menyarankan untuk baru membuka jahitan di kepala dalam 7-10 hari setelah operasi. [Eva Fahas/PRM/22092019]

Source Image : AloDokter.com

Sabtu, 14 September 2019

Mengenal Istilah Dasar Dalam Asuransi

Ketika mendaftarkan diri ke pihak perusahaan asuransi, kamu akan menjumpai berbagai macam istilah yang mungkin cukup asing. Beberapa istilah seperti premi, polis, klaim, rider dan sebagainya akan kamu jumpai. Apabila kamu tidak mengetahui secara pasti istilah-istilah tersebut, pasti akan merasa kebingungan. Berikut adalah beberapa istilah dalam asuransi yang bisa kamu pelajari agar tidak kebingungan di kemudian hari. 
  1. Premi - Biaya yang harus dibayarkan oleh pihak tertanggung kepada pihak penanggung sesuai dengan kesepakatan demi mendapatkan perlindungan dari subjek atau objek yang dipertanggungkan.
  2. Klaim - Pengajuan tuntutan atau gugatan kepada pihak penanggung karena telah terjadi salah satu faktor risiko yang telah tertulis dalam polis.
  3. Polis -  Bukti tertulis yang berisikan tentang kesepakatan antara pihak tertanggung dan penanggung. Bukti ini bisa menjadi penengah jika terjadi masalah antar kedua belah pihak.
  4. Policy Lapse - Disebut juga sebagai polis lewat waktu yang artinya adalah premi yang belum dibayarkan setelah jatuh tempo. Kondisi membuat pihak tertanggung tidak bisa mendapatkan manfaat dari asuransi jiwa terpercaya tersebut.
  5. 5. Lapse - Pihak tertanggung tidak melakukan pembayaran premi dan telah melewati masa tenggang, sehingga polis berhenti dan tentunya pihak tertanggung tidak mendapatkan manfaat asuransi.
  6. 6. Rider - Salah satu manfaat tambahan pada asuransi jiwa yang tentunya berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan menjadi lebih banyak. Disarankan untuk tidak tergesa-gesa dalam membeli rider. 
  7. 7. Grace Period - Masa tunggu setelah polis asuransi aktif yang biasanya berkisar antara 1-2 bulan setelah polis disetujui. Namun jangka waktu tersebut tergantung dari masing-masing perusahaan asuransi. Pada masa ini, kamu belum bisa mengajukan klaim asuransi.
  8. 8. Klausula - Termasuk dalam bagian rider, namun hanya berkaitan pada masalah tertentu saja dalam perjanjian asuransi kedua belah pihak.
  9. 9. Underwriter - Seorang spesialis dalam melakukan penilaian, penelitian hingga prediksi terkait jumlah risiko pemegang polis. Orang inilah yang nantinya memutuskan atau menjadi penentu untuk menerima atau menolak polis yang diajukan oleh nasabah.
  10. 10. Life Insurance - Salah satu asuransi kesehatan generali yang diberikan kepada pihak tertanggung atau keluarganya karena suatu peristiwa tertentu, contohnya pihak tertanggung mengalami cacat kaki setelah kecelakaan. 

Minggu, 08 September 2019

Menangani Stroke Perdarahan dengan Bedah Invasif Minimal


Stroke adalah kondisi medis gawat darurat yang terjadi ketika aliran darah ke otak terputus. Tanpa asupan darah, sel-sel otak akan mati. Ini dapat menyebabkan rentetan komplikasi fatal, dari kelumpuhan permanen hingga kematian.

Kita mengenal dua jenis stroke yang paling umum, yaitu stroke perdarahan atau stroke hemoragik serta stroke iskemik. Stroke iskemik adalah jenis stroke yang terjadi ketika pembuluh darah yang menyuplai darah ke area otak terhalang oleh bekuan darah. Mengutip dari laman HelloSehat.com, stroke iskemik bertanggung jawab atas 87% dari total kasus stroke. Stroke perdarahan terjadi saat pembuluh darah di otak mengalami kebocoran atau pecah. Stroke jenis ini menyumbang sekitar 13% dari total kasus stroke.

Semakin ke sini, kejadian stroke perdarahan semakin banyak. Tak hanya menyerang orang berusia lanjut, banyak juga yang berusia muda, mulai dari usia 20-an atau 30-an tahun. Stroke perdarahan berawal dari pembuluh darah yang melemah, kemudian pecah dan menumpahkan darah ke sekitarnya. Darah yang bocor jadi menumpuk dan menghambat jaringan otak di sekitarnya. Akibatnya bisa menimbulkan koma panjang dan kematian jika perdarahan terus berlanjut.

Ada beberapa faktor yang dapat menjadi pemicu stroke perdarahan, antara lain tekanan darah tinggi, kelainan struktur pembuluh darah sejak lahir, aneurisma otak, tumor otak, kelainan darah, serta bisa juga dipicu oleh faktor risiko lain seperti merokok, stres tinggi, pola hidup yang tidak sehat, serta diabetes melitus. Bahkan, seseorang bisa saja mengalami stroke perdarahan tanpa ada faktor pemantiknya.

Secara garis besar, ada dua jenis stroke perdarahan yang banyak dialami. Perdarahan saat pecahnya pembuluh darah dalam otak disebut dengan perdarahan intraserebral. Perdarahan pada pembuluh darah pada ruang di antara lapisan pembungkus otak bagian tengah dan dalam disebut dengan perdarahan subarachnoid.

Gejalanya bisa berbeda. Hal itu tergantung seberapa besar jaringan yang terganggu, lokasi, serta tingkat keparahan perdarahan yang terjadi. Mayoritas gejalanya adalah penglihatan mulai kabur tanpa sebab atau tanpa didahului benturan. Gangguan penglihatan itu bisa menetap atau sementara.

Gejala lain adalah mulut atau wajah yang tiba-tiba tidak simetris, bicara yang tiba-tiba cadel, terjadi kelemahan anggota gerak (bisa lunglai di salah satu sisi tubuh atau lumpuh), serta tekanan tinggi di dalam otak yang menyebabkan penurunan kesadaran, mual dan muntah yang menyemprot, serta nyeri kepala hebat.

Baik stroke perdarahan maupun stroke iskemik sebenarnya memiliki gejala yang tak jauh berbeda. Yang membedakan diagnosis selanjutnya adalah melalui pemeriksaan penunjang. Jika memiliki gejala tersebut, baik timbul maupun tenggelam, pasien disarankan untuk langsung mendatangi fasilitas kesehatan untuk menghindari komplikasi yang mungkin terjadi. 

Sayangnya, pasien datang ke rumah sakit ketika sudah terkena stroke. Jika sudah demikian, sebaiknya langsung datangi rumah sakit yang memiliki emergency dan fasilitas lengkap sehingga bisa langsung dilakukan pemeriksaan penunjang seperti CT scan, MRI, dan pemeriksaan lain. Golden period atau waktu terbaik penanganan pascastroke yaitu maksimal antara enam hingga delapan jam.

Minim risiko
Seseorang yang mengalami stroke sangat penting untuk segera mendapatkan penanganan medis. Pengobatan yang dilakukan sesegera mungkin dapat menyelamatkan hidup. Pengobatan yang dilakukan pada pasien stroke perdarahan pada umumnya meliputi obat pengontrol pembengkakan otak, obat untuk menghilangkan sakit kepala, dan obat kejang.

Pada beberapa kasus yang parah, prosedur bedah diperlukan untuk menghentikan pendarahan, mengurangi tekanan di dalam tengkorak, dan mempercepat pemulihan. Penanganan juga dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Perkembangan teknologi di bidang medis memungkinkan operasi stroke dilakukan dengan risiko sekecil mungkin. Salah satu prosedur minim risiko yang dapat dilakukan adalah minimal invasive surgery atau bedah invasif minimal.

Proses invasif minimal dimulai dengan pembuatan sayatan kecil pada tnbuh. Melalui sayatan ini, dokter bedah memasukkan alat dan kamera kecil beresolusi tinggi untuk membantu mencari bagian pembuluh darah tersumbat atau pecah yang menjadi penyebab stroke.

Kamera terhubung dengan monitor. Melalui monitor, dokter dapat melihat dengan jelas kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah otak secara realtime. Penanganan terhadap pembuluh darah yang bermasalah dapat langsung dilakukan. Tahap terakhir adalah menutup kembali sayatan kecil tempat masuknya alat dan kamera ke dalam tubuh.

Pada masa lalu, operasi besar dilakukan untuk mengambil gumpalan darah seusai terjadinya stroke perdarahan. Kini, metode invasif minimal lebih banyak dilakukan karena berbagai alasan. Alasan tersebut, misalnya, sayatan luka yang kecil dengan diameter 2-3 cm, serta penampakan luka yang lebih jelas. Risiko pendarahan atau kerusakan yang lebih hebat lagi bisa diminimalkan.

Dengan invasif minimal, diameter bukaan tulang juga berukuran minimal, sekitar 1-1,5 cm. Lokasi sayatannya tergantung pada lokasi perdarahan yang terjadi. Dengan invasif minimal, diharapkan tidak akan merusak jaringan otak yang sehat.

Penanganan pada pasien stroke sangat kompleks. Itu karena membutuhkan kerja sama dengan disiplin ilmu lain, seperti dokter umum, dokter saraf, dokter penyakit dalam, fisioterapi, dll, tergantung pada kondisi pasien.

Harapannya, pasien bisa sembuh dan kembali memiliki kualitas hidup yang baik. Tapi, tubuh orang kan berbeda, ada yang langsung pulih, ada pula yang membutuhkan waktu bulanan, bahkan tahunan.